Satelit Telkom-3 Hilang, Tak Cuma Telkom yang Rugi

Jakarta – Hilangnya satelit Telkom-3 usai diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, diyakini tak hanya merugikan Telkom saja. Namun industri telekomunikasi di Indonesia juga ikut terkena imbasnya.

“Jika memang satelit itu hilang, yang rugi bukan hanya Telkom,” sesal Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Semmy Pangerapan, saat dihubungi detikINET di Jakarta.

“Tetapi industri telekomunikasi nasional karena satelit masih menjadi salah satu backbone dan akses last mile andalan untuk area-area remote yang tidak bisa dipenetrasi dengan serat optik,” jelasnya lebih lanjut.

Menurutnya, satelit masih sangat dibutuhkan di Indonesia karena kontur geografis yang sulit ditembus dengan jaringan serat optik. “Di kawasan timur dan pulau-pulau terpencil itu mengandalkan satelit untuk last mile dan backbone,” kata Semmy.

Dijelaskan olehnya, satu satelit dengan kapasitas yang menggunakan teknologi terbaru kapasitasnya mampu mendukung 36 Mbps untuk satu transponder. “Sedangkan Satelit Telkom-3 membawa 42 transponder, dimana ada pancaran KU-band yang bisa mencapai 70 Mbps untuk satu transponder,” katanya.

Pemerintah pun disarankan belajar banyak dari kasus hilangnya satelit dari Telkom dan mulai berani berinvestasi di satelit menggunakan dana Universal Service Obligation (USO) untuk mendukung program tersebut.

“Sebaiknya satelit yang nantinya diinvestasi langsung pemerintah itu untuk akses telekomunikasi seperti internet, bukan penyiaran,” katanya.

Seperti diketahui, peluncuran Satelit Telkom-3 dari Baikonur Cosmodrome, di Kazakhstan, Selasa dinihari (7/8/2012) telah mengalami anomali sehingga tidak mencapai orbit sesuai yang direncanakan.

Telkom sendiri telah mendapat informasi tertulis dari First Deputy General Designer & General Director dari ISS Reshetnev, Rusia, perusahaan kontraktor utama satelit Telkom-3, bahwa telah terjadi anomali pada saat peluncuran Satelit Telkom-3 di tahap pengoperasian roket peluncur Breeze-M sehingga menyebabkan satelit hanya mencapai intermediate orbit.

Saat ini, pihak ISS Reshetnev sedang melakukan investigasi lebih lanjut atas kejadian ini dan akan segera menyampaikan hasilnya kepada Telkom. Melalui koordinasi intensif dengan pihak ISS Reshetnev, Telkom berharap mendapatkan informasi rinci dalam waktu dekat.

Satelit Telkom-3 Harus Segera Disiapkan Penggantinya

Jakarta – Satelit Telkom-3 yang gagal mengorbit dan dikabarkan hilang usai diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, disarankan harus segera dibuatkan penggantinya. Sayangnya, produksi ulang satelit tidak mudah dan memakan waktu yang cukup lama.

Peneliti dari Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, hilangnya satelit Telkom-3 harus segera diantisipasi dengan melakukan pemesanan ulang. “Jika hilang dan tidak dilakukan segera pemesanan, akan menjadi malapetaka bagi Telkom karena satelit itu pengganti Telkom-2,” katanya di Jakarta, Kamis (9/8/2012).

Heru yang juga mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia itu menilai, peluncuran satelit tidak semudah membalikkan telapak tangan karena dari proses order hingga peluncuran butuh waktu 3-4 tahun. “Dalam banyak kasus, untuk peluncuran itu antre,” katanya.

Sementara menurut Tonda Priyanto, praktisi satelit, pembuatan satelit biasanya dibangun dalam waktu dua sampai tiga tahun. Sedangkan untuk desainnya memakan waktu satu tahun. “Sehingga kalau pesan lagi dengan model yang sama maka akan lebih cepat setahun,” jelasnya.

Mantan praktisi satelit lainnya, Faizal Adiputra, mengatakan kegagalan satelit Telkom-3 masuk orbit bukan kali ini saja terjadi. “Dulu juga Palapa 2B pernah gagal orbit, lalu diambil dan diluncurkan lagi,” ungkapnya

“Mestinya Telkom-3 bisa diambil lagi, cuma ongkosnya lebih mahal. Jadi lebih baik diganti asuransi saja,” papar Faizal lebih lanjut. Telkom sendiri sebelumnya telah menyatakan, satelit yang menghabiskan biaya USD 200 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun itu sudah diasuransikan secara penuh.

Berdasarkan pengalamannya di Indosat dan Pasific Satelit Nusantara, setiap pembuatan satelit biasanya diproduksi sepasang, sehingga ada cadangannya. “Back up ini diperlukan jika satelit utamanya mengalami kegagalan.”

Namun satelit cadangan ini biasanya tidak diproduksi 100 persen. “Harusnya sih semua materialnya sudah siap. Jadi in case ada apa-apa, back up-nya bisa cepat naik,” tandas Faizal.

Seperti diketahui, peluncuran Satelit Telkom-3 dari Baikonur Cosmodrome, di Kazakhstan, Selasa dinihari (7/8/2012) telah mengalami anomali sehingga tidak mencapai orbit sesuai yang direncanakan.

Telkom sendiri telah mendapat informasi tertulis dari First Deputy General Designer & General Director dari ISS Reshetnev, Rusia, perusahaan kontraktor utama satelit Telkom-3, bahwa telah terjadi anomali pada saat peluncuran Satelit Telkom-3 di tahap pengoperasian roket peluncur Breeze-M sehingga menyebabkan satelit hanya mencapai intermediate orbit.

Saat ini, pihak ISS Reshetnev sedang melakukan investigasi lebih lanjut atas kejadian ini dan akan segera menyampaikan hasilnya kepada Telkom. Melalui koordinasi intensif dengan pihak ISS Reshetnev, Telkom berharap mendapatkan informasi rinci dalam waktu dekat.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s