Bersiap Untuk Investasi Properti di 2013

Ilustrasi pembangunan Apartemen

Ilustrasi pembangunan Apartemen (sumber: JG Photo)

Setidaknya ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan dalam berinvetasi di sektor properti.

Bisnis properti tentunya tidak pernah redup. Kalangan pelaku bisnis, pengamat, dan riset memprediksi, industri properti tetap booming pada 2013.

Memanfaatkan masa keemasan ini, tidak salah jika Anda mempertimbangkan untuk berinvestasi properti. Bagaimana strateginya?

Lembaga riset Price Waterhouse Coopers (PwC) dan Urban Land Institute yang berbasis di Washington mengungkapkan, Jakarta diprediksi menjadi kota dengan prospek bisnis properti paling mengkilap se-Asia Pasifik pada tahun depan.

Itu artinya, Jakarta sebagai Ibu kota Indonesia, akan melampaui kota-kota metropolitan lain seperti Hong Kong, Singapura, dan Sydney.

Rekomendasi untuk membeli properti di Jakarta mungkin cukup mengherankan. Tapi, menurut PriceWatershouseCoopers, pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun terakhir nyatanya cukup mengesankan para investor internasional.

“Didorong oleh pengkatan permintaan dari perusahaan asing dan nasional, harga sewa perkantoran melonjak hingga 29% pada kuartal ketiga,” demikian pernyataan PwC.

Menurut riset Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), laju inflasi pada tahun depan akan tetap rendah sekitar 4,5% per tahun, sehingga memicu BI rate tetap stabil dibawah 6% per tahun. Konsekuensinya, tingkat suku bunga KPR pada 2013 diperkirakan sekitar 7,5% per tahun.

PSPI menilai, penjualan dari ham pir seluruh subsektor industri properti seperti rumah tinggal, apartemen, perkantoran, dan pusat perdagangan akan naik sekitar 12-18%. Pertumbuhan sepanjang 2013 diprediksi mencapai 15%, dengan nilai kapitalisasi sebesar Rp 325 triliun.

“Produk properti yang membidik segmen menengah akan menjadi penopang kinerja pasar. Ada tiga subsektor unggulan di segmen ini yaitu rumah tinggal yang harganya kurang dari Rp 500 juta per unit, apartemen berharga dibawah Rp 600 juta per unit, dan perkantora hak milik di kawasan CBD dan non CBD,” papar Panangian Simanungkalit, Direktur Eksekutif PSPI.

Panangian menjelaskan, sebelum berinvetasi di sektor properti pada 2013 mendatang, setidaknya ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan.

Pertama, jika ingin berinvestasi di properti-properti yang menghasilkan pendapatan sewa seperti rumah, apartemen, ruko, maka investor harus memperhitungkan teknik memilih lokasi sunrise. Yang dimaksud dengan lokasi sunrise adalah lokasi dimana permintaannya, melebihi pasokannya.
“Ini  adalah karakter lokasi yang terbaik untuk investasi properti. Misalnya lokasi sunrise di Jakarta Pusat adalah di kawasan CBD, seperti kawasan Sudirman, Kuningan, dan Kasablanka,” ujar dia.

Kedua, investor harus mempertimbangkan tingkat harga, nilai sewa dan cap rate dari properti yang akan dibeli. Investor harus memilih properti yang harga jualnya kurang dari Rp1,5 miliar. Karena segmen pasar ini, kata Panangian, adalah properti yang terbaik sebagai investasi pada 2013.

“Selain itu, investor juga harus memilih, mana properti yang memiliki cap rate minimal 8% per tahun. Karena ini juga merupakan pilihan terbaik untuk investasi pada tahun depan,” jelas dia.

Terakhir, investor harus memastikan membeli properti pada perusahaan yang memiliki manajemen yang baik. Dengan kata lain, sebaiknya properti tersebut dibangun oleh pengembang yang terpercaya.

“Sebagai seorang investor yang ingin kaya raya melalui properti, lokasi dan properti hanyalah dianggap sebagai alat atau sarana untuk menciptakan tingkat pengembalian (return on investment/ROI) yang berlipat ganda. Jadi inilah mindset-nya. Jangan bertindak sebagai investor jika Anda bersikap sebagai end user,” tegas Panangian.

Dia menambahkan, investor yang baik pasti menghitung berapa lama jangka waktu dia berinvestasi. Dari uang yang telah dikeluarkannya, berapa imbal hasil yang tinggi melalui properti tersebut.

“Harus dipastikan, apakan investor mau berinvestasi jangka pendek kurang dari dua tahun, jangka menengah sekitar 3-5 tahun, dan jangka panjang di atas lima tahun,” papar Panangian.

Tingkat imbal hasil (ROI) yang ba gus, kata Panangian, harus di atas 150% per tahun. Dengan demikian, investor benar-benar harus jeli untuk berinvestasi pada kawasannya atau lokasinya, bukan pada harganya atau propertinya.

“Properti yang menarik, di lokasi yang bagus, dan penawaran yang murah. Itu kuncinya,” pungkas Panangian.

Penulis: ID/Ely Rahmawati/FH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s