Jakarta Muncul Sebagai Pasar Properti Paling Prospektif

Seorang Agen Properti tengah menjelaskan sistem pembelian properti dalam sebuah pameran properti.

Seorang Agen Properti tengah menjelaskan sistem pembelian properti dalam sebuah pameran properti. (sumber: JG Photo/Safir Makki)

Ibukota Indonesia ini telah muncul sebagai pasar investasi properti pilihan untuk tahun depan menurut laporan berjudul Emerging Trends in Real Estate Asia Pasific

Kalangan pemangku kepentingan (stakeholder) diimbau tetap menjaga dan mempertahankan pasar properti nasional kondusif.

Imbauan ini menyusul munculnya Jakarta sebagai pasar investasi properti pilihan pada 2013 versi Urban Land Institute (ULI) dan PricewaterhouseCoopers (PwC).

Sekretaris Jenderal FIABCI (Federasi Real Estate Dunia) Asia Pasifik Regional Secretariat Rusmin Lawin mengatakan, sejak berakhirnya krisis keuangan global 2008, Indonesia terutama Jakarta telah menjadi incaran favorit para investor asing.

Indonesia dianggap sebagai salah satu negara berkembang yang mampu bertahan terhadap krisis.

“Pemerintah dan stakeholder harus bisa menjaga situasi ini disemua aspek. Tetap konsisten untuk program pembangunan berkelanjutan dan menghapus birokrasi dan regulasi yang menghambat pertumbuhan ekonomi,” ujar Rusmin dalam siaran persnya, Minggu (6/1).

Menurut Rusmin, ada dua faktor utama yang membuat Indonesia menjadi favorit pilihan investor internasional.

Pertama adalah pull-factor dimana pasar Indonesia tumbuh dengan pesat dan merupakan pasar terbesar di Asean, yang dimotori oleh kelas menengah yang terus tumbuh pesat dengan daya beli yang terus naik secara signifikan. Selain itu, konsistensi pemerintah dalam menggenjot infrastruktur melalui program MP3EI.

Faktor kedua adalah push-factor dimana kondisi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa yang tidak kunjung membaik. Hal ini membuat para investor dunia cenderung mengalihkan dananya ke wilayah Asia Pasifik. Salah satu pilihan yang menarik adalah Indonesia terutama kota besar international seperti Jakarta.

Baru-baru ini, Jakarta telah muncul sebagai pasar investasi properti pilihan untuk tahun depan menurut laporan berjudul Emerging Trends in Real Estate Asia Pasific di 2013, yang dilansir bersama oleh Urban Land Institute (ULI) dan Pricewaterhouse Coopers (PwC).

Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, naik drastis dari posisi ke-11 pada tahun lalu, telah digambarkan sebagai pilihan ‘mengejutkan’ walaupun status investment grade masih di bawah kota dunia lainnya.

Bahkan, dianggap masih kurang memadainya infrastruktur dalam perekonomian yang berkembang dibandingkan dengan negara tetangga yang lebih maju.

“Namun, Jakarta dipandang oleh banyak profesional real estat sebagai emerging market yang paling menguntungkan di wilayah ini. Transaksi bisnis secara umum lebih mudah dan lebih transparan daripada di pasar terdepan lainnya seperti Vietnam,” kata ULI dan PwC dalam sebuah pernyataan baru-baru ini.

Perkiraan tersebut juga mencatat bahwa isu positif adalah bahwa Indonesia memiliki tingkat inflasi yang stabil sementara PDB terus berkembang sebesar 6,5% per tahun, dengan investasi asing langsung (FDI) meningkat sebesar 39% di periode 1H12.

“Permintaan untuk properti yang kuat, sehingga pada tahun ke tahun permintaan perkantoran melompat sebesar 29%. Namun, imbal hasil properti komersial masih stabil di 10%, hasil yang tidak terlalu tinggi untuk investasi jenis subsektor ini. Meskipun pasar Indonesia cukup menjanjikan, tetapi akan terus menjadi sebuah drama berisiko,” kata laporan tersebut.

Sebelumnya, riset Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) mengungkapkan, laju inflasi pada tahun depan akan tetap rendah sekitar 4,5% per tahun, sehingga memicu BI rate tetap stabil di bawah 6% per tahun. Konsekuensinya, tingkat suku bunga KPR pada 2013 diperkirakan sekitar 7,5% per tahun.

PSPI menilai, penjualan dari hampir seluruh subsektor industri properti seperti rumah tinggal, apartemen, perkantoran, dan pusat perdagangan akan naik sekitar 12-18%.

Pertumbuhan sepanjang 2013 diprediksi mencapai 15%, dengan nilai kapita- lisasi sebesar Rp 325 triliun.

“Produk properti yang membidik segmen menengah akan menjadi penopang kinerja pasar. Ada tiga subsektor unggulan di segmen ini yaitu rumah tinggal yang harganya kurang dari Rp 500 juta per unit, apartemen berharga dibawah Rp 600 juta per unit, dan perkantora hak milik di kawasan CBD dan non CBD,” papar Direktur Eksekutif PSPI Panangian Simanugkalit.

Penulis: ID/Ely Rahmawati/FH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s