“H-House”, Arsitektur Unik di Tanah Miring

http://www.archdaily.comPerbedaan ketinggian tanah pada awalnya mampu menimbulkan masalah pada tahap desain. Namun, hal ini kemudian justru menjadi ciri khas unik.

KOMPAS.com – “H-House”, sebuah rumah di jalan kecil Seongbuk-dong, di Seongbuk-gu, Seoul, Korea Selatan, ini tampak seperti tumpukan beberapa balok. Banyak keunikannya selain berdiri di tanah miring.

Selain bentuknya unik, cerita di balik bangunan ini bisa mengundang decak kagum orang-orang yang melihatnya. Namun, meski terlihat unik dan modern, bangunan ini didedikasikan untuk beberapa generasi seperti umumnya sebuah keluarga besar khas Asia.

Rumah di atas tanah seluas 403,56 meter persegi ini didesain oleh BANG by MIN, sebuah firma arsitektur berbasis di Korea Selatan. Berdiri di atas tanah miring, bagian depan “H-House” ini lebih rendah sekitar 8 meter dari bagian belakangnya.

Perbedaan ketinggian tanah pada awalnya mampu menimbulkan masalah pada tahap desain. Namun, hal ini kemudian justru menjadi ciri khas unik.

Selain masalah tanah, sang arsitek juga sempat mengalami kendala ketika harus memenuhi keinginan sang klien. Pemilik rumah ini menginginkan rumah yang mampu bertahan untuk tiga generasi. Ia mau rumahnya dapat memanfaatkan sinar matahari dengan maksimal, serta memiliki sistem perputaran udara di lantai bawah tanah (basement) dan di lantai pertama.

Ternyata, meski permintaan itu tergolong sulit, Sae Min Oh mampu menyelesaikan tantangannya. Hal itu terbukti dengan puasnya sang pemilik rumah.

Pertama-tama, sang arsitek harus mendesain sebuah ruang yang mampu menampung tiga generasi dalam satu atap. Ketiga generasi ini harus memiliki privasi mereka masing-masing.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Oh membuat lantai kedua sebagai ruang penghubung. Ruang tersebut menghubungkan tiga lantai rumah ini.

Oh juga membagi ruang keluarga di lantai kedua menjadi tiga level, yang setiap levelnya digunakan oleh sebuah keluarga. Level-level tersebut terbuka, namun dengan ketinggian berbeda, masing-masing keluarga dapat tetap merasakan adanya privasi. Selain itu, pemakaian pintu lipat dan dinding bongkar-pasang membuat ruang tersebut dapat dibentuk sesuai keinginan penghuni rumah.

Kedua, sinar matahari harus mampu memenuhi rumah ini. Selain itu, perputaran udara juga harus berfungsi dengan baik.

Menyambung lantai

Sebelum menjadi “H-House”, rumah ini memiliki masalah karena kurangnya sinar matahari dan buruknya perputaran udara di dalamnya. Dalam proses pemugaran, sang arsitek menempatkan taman yang menyambung dari lantai lebih bawah ke bagian paling atas rumah sehingga membuat seluruh bangunan ini menjadi terang.

Terakhir, sang arsitek menyelesai masalah berupa keinginan pemilik rumah, yaitu memiliki ruang komersial. Ruang basement rencananya akan disewakan sebagai tempat berjualan. Ruang yang berada di lantai bawah tanah tersebut diharapkan mampu mendapat banyak perhatian lantaran bentuk rumah yang unik.

(Sumber: http://www.archdaily.com)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s