BI Buat Rumusan Langkah Kendalikan Rupiah

Ilustrasi mengisi BBM. (Foto: Jakarta Globe)

Ilustrasi mengisi BBM. (Foto: Jakarta Globe) (sumber: Jakarta Globe)

Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cukup besar, menyebabkan neraca perdagangan minyak dan gas mulai defisit.

Bank Indonesia (BI) telah merumuskan langkah-langkah untuk mengendalikan nilai tukar rupiah yang belakangan bergerak di luar proporsinya. Namun, langkah-langkah tersebut lebih dituangkan dalam kebijakan langsung ketimbang aturan khusus.

“Kami mengikuti perkembangan ini dengan cermat, jadi kami sudah merumuskan langkah untuk mengendalikan nilai tukar rupiah kembali ke proporsinya atau fundamentalnya. Tapi saya tidak akan menceritakannya,” kata Gubernur BI Darmin Nasution ketika ditemui di kompleks perkantoran BI, Jakarta, Jumat (11/1).

Darmin mengatakan, kondisi ekspor yang belum membaik, sedangkan impor tetap tinggi, dibaca pasar sebagai kondisi neraca pembayaran yang semakin melemah.

Namun, dia menegaskan, transaksi modal dan finansial sebenarnya tetap positif di saat transaksi berjalan defisit.

Dia mengatakan, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cukup besar memang membuat impor BBM semakin besar. Hal itu menyebabkan neraca perdagangan minyak dan gas mulai defisit.

Menurut Darmin, terdepresiasinya rupiah yang hari ini sempat mencapai Rp 9.900 terutama disebabkan oleh sejumlah eksportir yang menahan dolarnya. Artinya, para eksportir tersebut tidak menjual dolarnya ke pasar, sehingga dolar menjadi langka.

“Kalau valuta asing (valas) dari eksportir sudah masuk tapi tidak ditukarkan ke rupiah, itu tidak menambah suplai valas di pasar. Banknya juga tidak berani menggunakan, mungkin hanya berani ketika bank itu memang ingin memberikan kredit dalam dolar,” jelas dia.

Dia mengemukakan, kondisi devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk ke perbankan domestik sebenarnya semakin baik. Namun, para eksportir tersebut enggan menjual dolar sehingga membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Mereka menahan dolar karena membaca neraca transaksi berjalan yang defisit itu. Padahal, jangan hanya lihat itu, lihat juga transaksi modal dan finansialnya,” ungkap Darmin.

Sepanjang 2012, BI mencatat, nilai tukar rupiah terdepresiasi, namun masih dalam volatilitas yang cukup rendah. Secara point to point atau sejak 1 Januari 2012 hingga 31 Desember 2012, rupiah melemah sebesar 5,91% (year on year) ke level Rp 9.638 per dolar Amerika Serikat.

Tekanan depresiasi terjadi pada triwulan II dan III, terkait memburuknya kondisi perekonomian global terutama di kawasan Eropa yang membuat portofolio asing menurun. Di sisi domestik, permintaan valas sangat tinggi terutama untuk kebutuhan impor.

Cadangan devisa hingga akhir Desember 2012 tercatat mencapai US$ 112,78 miliar atau setara dengan 6,1 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ke depan, BI tetap mewaspadai defisit transaksi berjalan dengan mempererat koordinasi bersama pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s