Petani dan Pengusaha Rokok Kecil Akan Dicekik Uji Tar dan Nikotin

Ribuan petani Tembakau yang tergabung dalam Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek membawa replika rokok kretek raksasa ketika melakukan aksi unjuk rasa di depan Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (3/7). Dalam aksinya mereka menolak RPP Tembakau dan menuntut revisi terhadap UU 36/2009 tentang kesehatan. FOTO ANTARA/M Agung Rajasa/Koz/pd/12

Ribuan petani Tembakau yang tergabung dalam Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek membawa replika rokok kretek raksasa ketika melakukan aksi unjuk rasa di depan Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (3/7). Dalam aksinya mereka menolak RPP Tembakau dan menuntut revisi terhadap UU 36/2009 tentang kesehatan. FOTO ANTARA/M Agung Rajasa/Koz/pd/12 (sumber: Antara)

Aria Bima mensinyalir, ada kepentingan tersembunyi perusahaan multinasional di balik PP Tembakau yang dinilai prematur.

Wakil Ketua Komisi Perdagangan dan Perindustrian Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aria Bima menilai, keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 109/2012 tentang tembakau akan merugikan pelaku industri kecil rokok kretek. Peraturan ini akan mewajibakan pengujian yang cukup menguras para pelaku industri kecil rokok kretek.

Menurutnya, PP yang bernama Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan itu mewajibkan setiap produsen rokok –termasuk industri kecil rokok kretek– untuk melakukan uji kandungan tar dan nikotin bagi setiap produknya.

“Bagi perusahaan rokok besar mungkin uji kandungan tar dan nikotin masalah mudah. Tapi tidak bagi produsen rokok kretek rumahan atau kecil. Selain keterbatasan akses, mereka juga terbentur besarnya biaya untuk melakukan uji laboratorium,” kata Aria Bima di Jakarta, Rabu (16/1).

Selain itu, lanjut Aria Bima, PP tak sejalan dengan roadmap industri hasil tembakau yang dicanangkan pemerintah sendiri, dalam hal ini  Kementerian Perindustrian.

Mengacu roadmap industri tembakau, pemerintah harusnya mempertimbangkan aspek tenaga kerja dan penerimaan negara, selain aspek kesehatan.

Mengutip dokumen urutan prioritas industri tembakau, sejak 2010-2015, kata Aria Bima, adalah pada aspek penerimaan negara, kesehatan masyarakat, dan tenaga kerja.

Pada 2015-2020, urutan prioritasnya berubah menjadi pada aspek kesehatan, aspek tenaga kerja, dan penerimaan negara.

“Artinya, prioritas utama kepada aspek kesehatan sebagaimana dimaksud PP No. 109/2012 mestinya baru akan dimulai tahun 2015 mendatang,” tegas Politisi PDI Perjuangan itu.

Dia lalu menjelaskan bahwa roadmap industri tembakau itu awalnya untuk menolak atau setidaknya menunda ratifikasi Konvensi Pengendalian Tembakau atau WHO Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Penolakan atau penundaan ratifikasi itu dimaksudkan guna memberi kesempatan kepada pemerintah mempersiapkan prakondisi sebelum Indonesia meratifikasi FCTC.

Prakondisi tersebut, kata Aria Bima, antara lain dilakukan dengan cara melakukan pembinaan industri kecil rokok kretek sehingga  mampu melakukan uji tar dan nikotin, serta mempersiapkan program konversi petani tembakau ke budidaya tanaman lain.

“Namun apa yang dilakukan pemerintah selama ini? Pemerintah belum memfasilitasi uji tar dan nikotin bagi pelaku industri rokok kretek  kecil dengan biaya murah dan prosedur yang mudah. Pemerintah juga belum serius menyiapkan konversi petani tembakau ke budidaya tanaman lain yang  lebih menguntungkan. Tetapi pemerintah sudah buru-buru mengeluarkan PP Tembakau yang merugikan petani tembakau dan industri kecil rokok kretek,” katanya.

Menurut Aria Bima, penyusunan roadmap industri tembakau ini telah disesuaikan dengan prinsip pro-growth, pro-job, dan pro-poor yang  dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri. Akan tetapi, ketika mengeluarkan PP Tembakau, pemerintah melupakan ketiga prinsip tersebut dan hanya mementingkan prinsip pro-health belaka.

Karena itu, Aria Bima mensinyalir, ada kepentingan tersembunyi perusahaan multinasional produsen rokok putih dan obat-obat penghenti kebiasaan merokok atau Nicotine Replacement Therapy (NRT) di balik keluarnya PP Tembakau yang ia nilai prematur itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s