Warga Sekitar Ciliwung Tidak Perlu Pindah, Asal…

detail berita

Ilustrasi, Sumber: Runi/Okezone

JAKARTA – Buruknya penataan lingkungan di sekitaran Kali Ciliwung dinilai sebagai salah satu penyebab meluapnya air sungai yang berakibat banjir. Hal ini semakin diperburuk dengan banyaknya area resapan air di bantaran Ciliwung yang dijadikan rumah tinggal.

Pengamat perkotaan Rudy Parluhutan Tambunan mengatakan, masyarakat Jakarta harus mengakomodir keterbatasan daya tampung bagian-bagian Kota Jakarta. Sebagaimana diamanatkan dalam UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindngan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Daya tampung yang dimaksud adalah kemampuan lingkungan untuk  meredam gangguan-gangguan yang datang kepadanya, misalnya memperkecil jalur aliran sungai, buang sampah di sungai, tebang pohon di wilayah puncak hingga terjadi erosi, dan tindakan lainnya yang merusak kondisi alam.

“Tapi ini bukan berarti masyarakat di Ciliwung harus serta merta pindah. Yang terpenting adalah menyesuaikan pola hidupnya dengan keterbatasan daya tampung ini,” ujar Dosen Jurusan Planologi Universitas Trisakti ini kepada Okezone, di Jakarta, Senin (21/1/2013).

Lebih dalam lagi, Rudy menjelaskan, mengatur bantaran Ciliwung atau dataran untuk menampung air saat musim hujan (flood plane) yang sudah menampung banyak bangunan rumah saat ini memang perlu. Hal ini pula yang dilakukan pemerintah lewat program Total Solution for Ciliwung.

“Ini juga sama dengan apa yang diinstruksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin dalam pidatonya. Yang penting memang pola hidup masyarakat yang harus disesuaikan dengan ketrbatasan daya tampung Jakarta ini,” jelasnya.

Sebab, mengatasi banjir, imbuhnya, bukan tugas dan kewajiban pemerintah saja. Harus dimulai dari diri sendiri, kemudian diteruskan ke keluarga, lalu dari keluarga hingga kelurahan, hingga sampai pada kelompok masyarakat terbesar, yakni kota.

“Kenyataannya, dari kelompok masyarakat terkecil, yakni keluarga saja sudah tidak memikirkan daya tampung linkungannya. Padahal dengan tidak buang sampah di sungai adalah tindakan paling ril yang bisa dan harus dilakukan,” jelas Rudy.

Selain itu, mengenai musibah banjir yang melanda hampir sebagian besar wilayah Jakarta, dia berpendapat, para ahli terutama dari BMKG dan LIPI sudah memperingatkan akan terjadinya curah hujan tinggi pada bulan-bulan ini, namun, baik pemerintah maupun masyarakat tidak ada yang menggubris.

“Jadi masyarakat lupa, terlalu asik dengan memerhatikan hal lain. Gubernr DKI Jakarta, Jokowi juga asik blusukan ke mana-mana. Sedangkan, bagi para ahli atau pakar yang sudah tau dan rata-rata punya kepentingan terkait dengan bidang ini sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi di mana fluktuasi hujan tinggi, seperti sekatang,” ujarnya menutup. (nia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s