Rayakan Imlek, Ancol Gandeng Seniman Pengidap Schizophrenia

 

Ancol gelar parade Imlek pada 9-10 Februari 2013 (Foto: Mutya/Okezone)

Ancol gelar parade Imlek pada 9-10 Februari 2013 (Foto: Mutya/Okezone)

JAKARTA – Menyambut perayaan Tahun Baru China (Imlek) 2564, Taman Impian Jaya Ancol menggelar sejumlah acara spektakuler. Salah satunya, pengelola Ancol menggandeng para seniman pengidap schizophrenia dan bipolar.

Acara lainnya pertunjukan barongsai di dalam air di Ocean Dream Samudra serta pelepasan lampion air di Promenade Danau Monumen Ancol, Sabtu (9/2). Pihak Ancol juga memberlakukan masuk gratis kepada kaum duafa dengan cara mengirimkan surat keterangan ke pihak manajemen.

Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengatakan, berdasarkan shio tahun ini merupakan tahun ular air, di mana ular air merupakan hewan yang cerdik. Mengambil filosofi tersebut, Budi juga akan bertindak cerdik dalam hal positif, salah satunya menggandeng pengidap schizophrenia dan bipolar untuk aktif melakukan pameran. Menurutnya, inti dari perayaan Imlek adalah berbagi.

”Format acara kita dalam menyambut Imlek adalah berbagi kebahagiaan. Untuk itu, kita membuat barongsai patok agar pengunjung bisa berfoto, sehingga kemeriahan Imlek tidak hanya dirasakan bagi yang merayakannya saja,” tuturnya dalam konferensi pers di Ancol, Jakarta, baru-baru ini.

Lebih lanjut Budi menjelaskan, inti dari perayaan Imlek tahun ini selain memberikan hiburan kepada para pengunjung, juga memberi kesempatan kepada para pengidap schizophrenia dan bipolar untuk mengekspresikan jiwa seni dalam dirinya masing-masing. ”Saat ini masih sedikit orang yang memahami tentang schizophrenia. Dengan acara ini, semoga pengetahuan masyarakat tentang schizophrenia bisa bertambah,” katanya.

Anggota Komunitas Peduli Schizophrenia Nawa Tunggal mengatakan, gembira dengan dilibatkannya schizophrenia dalam perayaan Imlek di Ancol. Dilibatkannya seniman pengidap schizophrenia bisa menjadi kampanye kepada masyarakat, bahwa seseorang pengidap schizophrenia mampu melakukan hal positif.

Pasalnya, saat ini di masyarakat stigma terhadap para pengidap schizophrenia cukup tinggi. Stigma ini muncul karena pengetahuan yang minim terhadap schizophrenia dan bipolar.

Nawa menjelaskan, schizophrenia merupakan penyakit gangguan mental, tapi bukan gila. Mereka hanya butuh dukungan dari orang terdekat dan masyarakat. Ada dua cara mengendalikan schizophrenia, yakni psikoedukasi dan psikososial.

Menurutnya, yang dilakukan Ancol merupakan salah satu bentuk psikososial. Para pengidap schizophrenia dilatih untuk bisa bersosialisasi dengan cara melukis serta membuat instalasi. Dengan demikian, insting liar para pengidap schizophrenia bisa dikendalikan melalui lukisan ataupun seni instalasi.

Tifa, salah seorang bipolar, mengaku awalnya dia tidak mengerti penyakit jiwa yang dideritanya adalah bipolar, di mana dirinya tidak bisa mengendalikan mood. Saat ini senang, beberapa detik kemudian mood tersebut bisa berbalik 360 derajat.

Dia berharap agar masyarakat mengerti bahwa apa yang ada pada dirinya bukanlah suatu aib, melainkan anugerah. Untuk itu, jangan lagi ada istilah orang gila untuk dirinya maupun komunitasnya.

”Saya bisa berbuat hal yang sama dengan manusia pada umumnya, namun saya hanya tidak bisa mengendalikan mood saja,” tuturnya.

Sementara itu, dari pantauan di pintu masuk Ancol,suasana Imlek sudah terasa. Kawasan Ancol didominasi dengan warna merah dan kuning yang melambangkan kesejahteraan. Kemudian di depan Putri Duyung Cottage, tepat di arena Epic Cable dibuat barongsai patok yang membentuk ular dengan dominasi warna merah diterangi lampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s