Waspada Potensi Bubble Jika Asing Miliki Properti di RI

detail berita

Ilustrasi (Foto: Heru H/Okezone)

JAKARTA – Kekhawatiran Bank Indonesia (BI) saat ini mengenai bubble di sektor properti karena peningkatan nilai kredit kepemilikan rumah (KPR) dan harga mungkin agak berlebihan, bila dibandingkan jika kran kepemilikan asing sudah benar-benar dibuka. Mengapa bubble properti menjadi berbahaya?

Belajar dari perkembangan properti di negara lain, nilai properti mereka yang tergerek berlipat-lipat dengan masuknya kepemilikan dari luar akan mengalami crash ketika krisis terjadi di negara asal pemilik. “Secara drastis nilai properti akan jatuh dan pasar runtuh,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, seperti dikutip dalam situs resmi IPW, Selasa (5/2/2013).

Dia menyebut, hal inilah yang membedakan mengapa pasar properti Indonesia tetap baik ketika krisis Amerika dan Eropa terjadi, karena pasar Indonesia saat ini masih didominasi oleh pasar lokal. Sedangkan pasar properti di negara tetangga mengalami pecahnya bubble di sektor properti yang mengakibatkan nilai properti jatuh.

“Karenanya ketika kepemilikan properti bagi warga negara asing (WNA) dibuka di Indonesia, sebaiknya perlu persiapan peraturan-peraturan pembatasan yang melindungi pasar lokal,” tegasnya.

Sebelmunya kepada Okezone belum lama ini, Ali mengatakan pemerintah Indonesia sangat belum siap menerima masuknya asing ke pasar properti nasional. “Kesiapan bank tanah oleh pemerintah sangat tidak siap. Karena sampai saat ini pemerintah hampir dikatakan tidak mempunyai bank tanah (land bank) yang siap dikembangkan untuk masyarakat MBR,” sebut dia.

Belum siapnya pemerintah menjadi salah satu alasan Indonesia Property Watch menolak kepemilikan asing di Indonesia. “Bila kita berkaca dari negara Singapura, maka menjadi naif membandingkan kondisi fundamental yang ada. Karena di sana hanya kurang dari 10 persen masyarakatnya yang belum mempunyai rumah,” jelasnya.

Untuk itu, dia menyarankan, perlunya pembatasan luas dan jumlah pembelian sebaiknya diatur untuk memberikan keseimbangan antara pasar asing dan pasar lokal nasional. Bila tidak ada pembatasan maka asing dipastikan akan menguasai sebagian besar pasar properti nasional dan itu akan membahayakan keseimbangan pasar. (NJB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s