MICE Moncer

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)
Bulan yang paling saya tunggu dalam setahun adalah Maret. Kenapa? Karena di tiap awal bulan di bulan ini digelar ajang tahunan Java Jazz Festival. Karena sekarang sudah akhir Februari, ajang tersebut tinggal menunggu hari.

Setiap datang ajang Java Jazz, ada dua hal yang memesona saya. Pertama para maestro jazz yang hadir. Kedua, para penonton yang meluap luar biasa. Saya kira tiket Java Jazz tidak murah, tapi tetap saja yang hadir membeludak bak air bah. Mau jalan di area JIExpo Kemayoran tempat pesta jazz ini digelar saja sulit bukan main karena saking berjubelnya. Itu satu hal. Beberapa hari yang lalu saya menonton pameran perumahan BNI Expo di Jakarta Convention Center.

Kondisinya setali tiga uang, pengunjung pameran membeludak luar biasa.Saya takjub bukan main karena para pengunjung pameran yang berburu rumah, apartemen, dan ruko seperti orang kalap. Ribuan pasang mata pengunjung nanar memelototi spesifikasi rumahrumah yang ditawarkan peserta pameran. Saya kebetulan termasuk seorang “aktivis pengunjung pameran”, tiap kali digelar pameran besar di JCC atau JIExpo Kemayoran selalu rajin hadir.

Pemandangan yang saya temukan di setiap pameran itu sama saja. Event-event besar tahunan seperti Indonesia International Motor Show (IIMS), Indocomtech, Inacraft hingga Franchise & Licence Expo selalu riuh disesaki pengunjung. Setiap kali hadir di pameran-pameran yang grand dan mewah sering kali saya bergumam, “Wow, rasanya saya sedang berada di kota-kota jantung dunia New York, Tokyo, atau Frankfurt.”

Moncer

Ya industri event konser musik, pameran, seminar, atau konvensi (sering disebut: meeting, incentive, convention, & exhibition, disingkat MICE) memang sedang moncer di Indonesia. Setidaknya dalam tiga tahun terakhir, gelaran konser musik lokal maupun asing, seminar dan konvensi berskala nasional maupun internasional, pameran industri dan asosiasi hingga rapat-rapat kerja perusahaan maupun instansi pemerintah begitu marak layaknya jamur yang tumbuh subur di musim hujan.

Mengikuti ranumnya pasar MICE ini, para pemain di industri ini pun mulai proaktif menangkap peluang. Salah satunya adalah membangun gedung-gedung konvensi (convention hall) di berbagai kota di Tanah Air. Kelompok Kompas Gramedia (KKG) adalah grup perusahaan nasional yang agresif melakukannya.

KKG ekspansif membangun convention hall di kota-kota MICE utama seperti: Gramedia Expo di Surabaya; Bali Nusa Dua Convention Centre, convention & exhibition hall bertaraf internasional di Bali; dan Medan International Convention Centre di Medan. Rencananya grup ini juga akan membangunconvention hall di kawasan Indonesia Timur, Makassar International Convention Centre di Makassar danconvention hall terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Serpong.

Mengiringi geliat industri MICE, hotel pun tumbuh supercepat. Di kota-kota MICE utama seperti Jakarta, Bali atau Bandung misalnya, mau buka hotel berapa pun okupansinya selalu mendekati 100 persen. Beberapa hari lalu saya bertemu teman lama saya Vivi Herlambang, Corporate Communication Hotel Santika.

Mbak Vivi bercerita dengan bersemangat, bagaimana Santika begitu agresif mengembangkan jaringan hotel untuk memenuhi permintaan pasar yang melaju sangat pesat. “Targetnya 2015 Santika Group memiliki 100 hotel mencakup Hotel Santika, Royal Collection, dan Hotel Amaris,” ujarnya.

The Great Indonesia

Maraknya industri MICE di Indonesia tak lepas dari perkembangan ekonomi Indonesia yang sedang bagus-bagusnya lima tahun terakhir. Saya meyakini perkembangan ekonomi Indonesia robust dalam kurun waktu lama karena didorong pertumbuhan kelas menengah yang luar biasa. Ketika pertumbuhan ekonomi meroket, aktivitas industri dan perdagangan ikut berputar kencang.

Aktivitas perekonomian yang menggeliat dinamis inilah yang memicu maraknya pasar MICE di Indonesia. Dari perspektif perkembangan global, maraknya pasar MICE di Indonesia dan negara-negara maju baru (emerging countries), khususnya Asia, juga tidak lepas dari kondisi perekonomian Eropa dan Amerika yang sedang lesu. Kelesuan ini menjadikan pusaran bisnis MICE mulai bergeser ke Asia danemerging countries seperti Brasil atau Uni Emirat Arab (UEA).

Data International Convention and Congress Association (ICCA) menunjukkan, untuk jumlah pertemuan, memang hingga tahun 2010 lalu pasar MICE sebagian besar masih dikuasai negara-negara Eropa dengan total pangsa pasar mencapai 54 persen. Namun selama 10 tahun terakhir (2000-2010) pasar MICE di emerging countries tumbuh luar biasa seperti yang terjadi di China (tumbuh 15 persen), Brasil (12 persen), UEA (32 persen), dan Indonesia (10 persen), sementara di negara-negara Eropa hanya tumbuh lima sampai enam persen dan di Amerika 2,5 persen.

Di Asia Tenggara, kinerja industri MICE kita memang masih kalah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Namun, sejak 2009 terlihat industri MICE kita mulai menggeliat dan tumbuh pesat. Pasar besar dan pertumbuhan ekonomi yang robust menjadi alasan kunci kenapa pasar MICE bergeser dari Singapura atau Malaysia menuju Indonesia.

Primadona

Indonesia memiliki prospek luar biasa untuk menjadi primadona destinasi MICE dunia bila melihat potensi besar yang kita miliki. Ada beberapa pertimbangan kunci suatu negara menjadi destinasi MICE, mulai dari faktor keamanan, harga, kemudahan akses hingga fasilitas dan infrastruktur yang memadai.

Menurut ICCA, setidaknya ada 20 asosiasi internasional yang bermarkas di Indonesia yang berpotensi mengadakan konferensi internasional di Indonesia. Perlu pula diingat, hingga 2016, Indonesia telah ditetapkan sebagai tuan rumah 45 kegiatan pertemuan asosiasi internasional. Ini tentu saja merupakan potensi pasar yang luar biasa yang harus diambil oleh anak negeri.

Dari sisi keamanan, selama lima tahun terakhir kita melihat situasi stabilitas keamanan dan politik kita sangat kondusif. Isu bom, kerusuhan SARA, atau demonstrasi massa kini berangsur sirna. Dari sisi harga, fasilitas MICE di Indonesia cukup bersaing dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Dari sisi kemudahan akses, dengan maraknya pertumbuhan industri penerbangan kita beberapa tahun terakhir, akses ke Indonesia juga semakin mudah, aman, dan efisien.

Sementara dari sisi infrastruktur dan fasilitas, seperti saya uraikan di depan, kini para pemain di industri ini sedang getol-getolnya membangun convention hall atau hotel. Pada 20 Mei 2013 nanti, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, saya akan menggelar Indonesia Brand Forum (IBF) di Jakarta Convention Center, Jakarta. Ide besar yang melandasi event tersebut adalah sebuah obsesi luhur agar merek-merek lokal mampu membangun daya saing dalam melawan merek-merek global dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Seperti halnya di industri-industri lain, di industri MICE ini pun saya punya harapan besar bahwa para professional convention organizer (PCO) lokal kita mampu bersaing dengan PCO-PCO global sehingga menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Harus diingat, di tengah pasar MICE yang sedang moncer saat ini, saya sudah mendengar setidaknya ada 20 PCO global yang akan masuk ke Indonesia tahun ini. Awas!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s