Turis Bisa Ikut Rangkaian Tradisi Nyepi di Bali

Upacara Melasti dilakukan 3-4 hari sebelum Nyepi (Foto: indonesiatravel)

Upacara Melasti dilakukan 3-4 hari sebelum Nyepi (Foto: indonesiatravel)

KEUNIKAN Bali juga ada pada tradisi Nyepi. Bali memiliki satu hari di mana tidak ada aktivitas sama sekali untuk memperingati hari raya Nyepi atau Tahun Baru Saka.

Saat Nyepi, wisatawan yang tidak merayakan juga harus menghormatinya dengan tidak melakukan aktivitas apapun seharian. Bali akan menjadi kota mati, dan tidak akan ada penerbangan datang maupun pergi di hari itu. Namun, Anda bisa melihat tradisi Nyepi di Bali yang unik beberapa hari sebelum dan sesudahnya.

Simak ulasannya berikut ini, seperti dikutip dari laman Indonesia Travel:

Melasti
Upacara Melasti dilakukan 3-4 hari sebelum Nyepi dimulai. Ritual yang didedikasikan untuk Sanghyang Widhi Wasa ini dipertunjukkan di pura yang berada dekat laut. Saat upacara ini, umat Hindu akan melakukan sembahyang di tepi pantai untuk mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya ke laut.

Tak hanya orangnya, barang-barang sakral milik pura juga turut disucikan saat Melasti. Barang-barang ini akan diarak keliling desa untuk selanjutnya menuju samudera, laut, danau atau sungai, serta mata air lainnya yang dianggap suci.

Saat Melasti, seluruh umat Hindu akan mengenakan pakaian putih. Ketika upacara selesai, barang-barang milik pura yang telah disucikan tadi kembali diusung ke Balai Agung Pura Desa.

Untuk menyambut Hari Raya Nyepi, pelaksanaan upacara Melasti dibagi berdasarkan wilayah, di Ibu Kota Provinsi dilakukan Upacara Tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan, di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.

Sementara, di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di Natar Merajan (Sanggah). Meskipun dilakukan di seluruh Bali, biasanya tempat terbaik untuk melihat upacara Melasti adalah di pantai-pantai sekitar Kuta, Seminyak, Nusa Dua, dan Sanur.

Tawur Kesanga dan Caru
Tawur Kesanga dan Caru adalah ritual pengorbanan yang dilakukan sehari sebelum Nyepi. Berbagai tingkatan pengorbanan dilakukan di desa, distrik, dan kabupaten. Pengorbanan ini dilakukan dengan mengorbankan ayam, bebek, babi, kambing, hingga sapi.

Ada juga buah-buahan dan tanaman yang disajikan sebagai sesajen. Selain mengingatkan kaum Hindu di Bali mengenai pentingnya ternak dan tanaman mereka, ritual ini juga dilakukan untuk menyenangkan Batara Kala dengan sesajen Pecaruan.

Pengrupukan
Pada sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada saat matahari terbenam, giliran upacara Pengrupukan yang dilakukan. Dalam upacara ini, umat Hindu di Bali akan berparade keliling desa sambil membawa obor dan memainkan kulkul, bel tradisional yang terbuat dari bambu.

Ogoh-Ogoh
Ritual sehari sebelum Nyepi ini akan mencapai puncaknya dengan prosesi Ogoh-Ogoh. Ogoh-Ogoh adalah boneka Bali besar yang terbuat dari kertas. Ogoh-Ogoh ini menggambarkan karakter jahat atau Bhuta. Ogoh-Ogoh ini pun ikut diarak, hingga akhirnya dibakar. Pembakaran Ogoh-Ogoh melambangkan pengusiran dan pembasmian roh jahat.

Ogoh-Ogoh terbaik Bali biasanya ada di pusat kota atau keramaian, seperti Sanur, Kuta, Denpasar, dan Ubud. Kota-kota ini bahkan menyelenggarakan kontes Ogoh-Ogoh terbaik setiap tahunnya.

Ngembak Geni
Sehari setelah Nyepi, umat Hindu di Bali kembali boleh keluar dari rumah serta makan dan minum seperti biasa. Saat ini disebut juga Ngembak Geni, ketika mereka mengunjungi sanak saudara, tetangga dan relasinya untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s