Kekayaan Bertambah, Properti Mewah Jadi Incaran

 

 ilustrasi pembangunan proyek properti dalam rangka pertumbuhan ekonomi.
ilustrasi pembangunan proyek properti dalam rangka pertumbuhan ekonomi. (sumber: Antara)

Jakarta – Pertumbuhan industri properti di Indonesia terus menggeliat. Beberapa tahun terakhir bahkan tumbuh berkisar 10-15% per tahun. Produk properti masih menjadi kebutuhan, bahkan kini sudah menjadi produk investasi yang menggiurkan.

Saat pertumbuhan ekonomi nasional berkisar 6,5-6,7%, pertumbuhan sektor properti ikut meningkat dua kali lipatnya. Termasuk, di segmen produk properti residensial mewah yang dibanderol mulai Rp 1 miliar per unit.

Bagi kelompok masyarakat berkantong tebal, harga properti sebesar itu nyaris tak terlalu menggoyang finansial mereka. Di Jakarta, kini bahkan ada apartemen yang dibanderol berkisar Rp 4-14 miliar per unit. Terbukti, tetap direspons positif oleh pasar.

Kelompok orang berkekayaan Rp 300 miliar ke atas ditaksir terus meningkat. Pada 2022 ditaksir menjadi tahun keemasan bagi para konglomerat di Tanah Air. Data yang dirilis lembaga riset Knight Frank Indonesia menyebutkan, pada 2022, jumlah orang kaya tersebut sebanyak 5.161 orang atau melonjak 402%.

Menurut Associate Director Consultancy & Research Knight Frank Hasan Pamudji, mereka adalah konsumen properti cukup potensial. “Kekayaan mereka termasuk aset-aset berupa properti, selain berbentuk dana simpanan di bank,” ujar dia kepada Investor Daily, di Jakarta.

Bahkan, kata dia, untuk kelompok orang-orang super kaya, yakni yang memiliki kekayaan melebihi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 10 triliun jumlahnya bakal melonjak. “Dalam sepuluh tahun, terhitung mulai 2012, pertumbuhan mereka mencapai 190%,” jelas dia.

Angka tersebut, ungkap Hasan, membengkak dari 31 menjadi 90 orang super kaya.

Hasan menilai, peningkatan drastis jumlah para konglomerat ini mempengaruhi bisnis di bidang properti. Dia mengatakan, orang kaya tersebut mulai melirik properti sebagai investasi. “Mereka membeli bukan karena melihat properti sebagai kebutuhan pokok, melainkan sebagai investasi,” jelas Hasan.

Produk properti menjadi incaran investasi karena tingkat pengembalian investasi (Return On Investment/ROI) nya cukup memikat. Untuk residensial vertikal (apartemen) di Jakarta dan sekitarnya bisa di atas 10% per tahun. Bahkan, untuk apartemen premium bisa mencapai 100% per tahun.

Tingginya ROI tersebut membuat para pengembang kian agresif melirik bisnis properti apartemen. Tahun ini, pasokan apartemen ditaksir bertumbuh sekitar 15% dibandingkan setahun sebelumnya.

“ROI apartemen premium rata-rata 80 per tahun. Tapi, tahun 2013, ROI bisa mencapai 100% per tahun,” ujar Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit, beberapa waktu lalu.

Menurut Hasan, salah satu dampak yang jelas terlihat akibat meningkatnya jumlah orang kaya adalah meningkatnya harga properti mewah di Tanah Air. Data riset Knight Frank menunjukkan, dalam tempo enam tahun, kenaikan harga properti mewah di Jakarta sebesar 80%.

“Pada 2007, harga residensial mewah per meter persegi (m2) masih sebesar US$ 2.077. Sedangkan pada 2012, besarannya melonjak menjadi US$ 3.746 per m2,” jelas Hasan.

Jika dilihat secara global, Hasan mengungkapkan, kenaikan harga residensial mewah di Jakarta tersebut hampir sama besarnya dengan harga di Kuala Lumpur dan Bangkok. Di Kuala Lumpur, lanjutnya, pertumbuhan harga properti mewah tercatat sebesar 82%, sedangkan Bangkok 131%.

Senada, hasil riset Jones Lang Lasalle – Procon juga menunjukkan adanya peningkatan harga kondominium mewah di Jakarta. Sepanjang tahun 2012, peningkatan harga mencapai 23%.

Tak hanya itu, pada 2013, Jones Lang Lasalle mencatat, penyerapan properti kelas atas di Jakarta mencapai 80%. Besaran tersebut melebihi penyerapan kondominium kelas bawah dan menengah. Untuk kelas bawah, penyerapan hanya berkisar 60%. Sedangkan pada kelas menengah, penyerapan di bawah 60%.

Sementara itu, Hasan menilai, properti di Jakarta memang masih menjadi incaran para investor. Dia mengatakan, dari hasil survei Price Water House Coopers (PWC) dan Urban Land Institute (ULI), Jakarta menjadi pasar real estate teratas di kawasan Asia Pasifik sepanjang 2013. Posisi Jakarta, tambah Hasan, mengalahkan Shanghai, Hong Kong, Singapura, Kuala Lumpur, dan Sydney.

Residensial Jakarta

Sementara itu, Direktur Riset Knight Frank Asia Pasifik Nicholas Holt menjelaskan, Jakarta menjadi incaran investor karena harga residensial di kota ini terus menunjukkan peningkatan.

“Hingga kuartal empat 2012, harga residensial di Jakarta meningkat 38,1%,” kata Nicholas.

Peningkatan minat pada properti mewah juga terlihat dari situs Knight Frank yang dirilis tahun lalu. Dari situs tersebut, Hasan menyebutkan, ada peningkatan pencarian properti mewah pada 2012. “Pencarian properti mewah oleh orang di Indonesia meningkat 50% dari tahun 2011,” kata Hasan.

Dia menjelaskan, selain di Tanah Air, orang kaya dari Indonesia juga mulai mencari properti di luar negeri. “Umumnya mereka mencari properti di Singapura dan Australia. Kami mencatat ada 1.355 pembeli properti di Singapura dari Indonesia,” kata dia.

Kedua negara tersebut, lanjutnya, menjadi incaran orang kaya karena ditujukan untuk tempat tinggal anak-anak mereka yang bersekolah di sana.

Menyinggung properti secara global, Nicholas menyebutkan, ada peningkatan investasi di bidang tersebut. “Investasi di bidang properti meningkat dari dari US$ 47 miliar pada 2009, menjadi US$ 92 miliar pada 2012,” kata dia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s