Harga Tanah Mahal Menpera: Banyak Buruh Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

detail berita

Rusunawa, Sumber: Okezone

JAKARTA – Rumah Susun Sewa (Rusunawa) dianggap mampu memompa semangat buruh di Indonesia diharapkan dapat dalam bekerja. Imbasnya, sektor industri juga akan terpacu dengan hal itu.

Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mengaku kebutuhan perumahan bagi pekerja atau buruh sampai dengan saat ini sulit terpenuhi, dengan semakin mahalnya harga tanah dan rumah dari waktu ke waktu. Hal ini mengakibatkan kehidupan para pekerja atau buruh hanya mampu menghuni rumah yang tidak layak huni dengan kondisi yang sesak, banjir dan kotor.

Jumlah pekerja Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2012 sebesar 40,2 juta pekerja yang di antaranya tersebar di wilayah DKI Jakarta sebanyak 2,2 juta, di Bogor, Depok dan Bekasi sebanyak 1,6 juta dan di wilayah Banten sebanyak 491 ribu pekerja, dengan tingkat rata-rata upah minimum provinsi sebesar Rp1,1 juta per bulan dan tingkat rata-rata pengeluaran untuk sewa rumah sebesar Rp300 ribu serta biaya transportasi rata-rata Rp500 ribu per bulan.

“Untuk itu diperlukan langkah-langkah percepatan penyediaan rumah yang layak huni bagi pekerja atau buruh yang lokasinya dekat dengan tempat bekerja sehingga menghemat biaya transportasi dan harga sewa rumah dapat terjangkau sesuai dengan daya beli para pekerja atau buruh,” katanya seperti dikutip dari situs resmi Kemenpera, Rabu (20/3/2013).

Pemerintah, imbuhnya, telah berupaya meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh sejak 2005 sampai 2012. Caranya adalah dengan membangun rusunawa pekerja sebanyak 42 Twin Blok (TB). Target pemerintah pada 2013 direncanakan membangun rusunawa pekerja sebanyak 35 TB. Namun yang dapat dialokasikan pada tahun ini sesuai kemampuan anggaran Pemerintah hanya 24 TB dengan kapasitas 2.700 unit Sarusun untuk menampung 10.800 pekerja

Saat ini, pemerintah juga telah berhasil mengajak sektor industri membangun rumah bagi pekerja atau buruh melalui pembiayaan perumahan FLPP dengan target pembangunan

Rumah tunggal atau deret bagi pekerja tahun 2013 sebanyak 8.100 unit, tipe luas lantai 27-36 m2. Pembangunan rumah tersebut tersebar di beberapa lokasi pada sebagian lahan sektor industri, antara lain di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan rumah tunggal atau deret bagi pekerja yang telah terbangun dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2011 sebanyak 3.000 ribu unit di Semarang. (nia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s