Pengembangan Properti Harus Seirama dengan Perlindungan Budaya Lokal

 

  ilustrasi pembangunan proyek properti dalam rangka pertumbuhan ekonomi.
ilustrasi pembangunan proyek properti dalam rangka pertumbuhan ekonomi. (sumber: Antara)

Bandung – Pengembangan industri properti harus seirama dengan upaya perlindungan terhadap kawasan warisan budaya atau kearifan lokal secara harmonis dan berimbang.

Mengingat banyaknya potensi bangunan sejarah yang diwariskan secara turun temurun, (dalam arti warisan budaya tak benda berupa arsitektur sebagai instrumen penyusun sebuah kota) mulai ditinggalkan.

“Ini yang kita dorong, ke pengembang untuk membangun ada kearifan lokal yang memang juga potensial,” kata Ketua umum DPP REI, Setyo Maharso, dalam FIABCI Asia Pacific Regional Secretariat Summit yang diadakan hotel Sheraton, Bandung, Sabtu (23/3).

Upaya pelestarian salah satu bentuk warisan budaya tak benda ini sudah menjadi gerakan yang cukup masif di berbagai belahan dunia. Indonesia yang juga memiliki beragam wujud warisan arsitektur lama, idealnya tak ketinggalan untuk mengambil peranan.

“Kota-kota di Indonesia memiliki banyak warisan peninggalan arsitektur bernilai tinggi. Namun, hampir semua warisan budaya itu tidak bisa dikelola secara optimal demi kepentingan wisata budaya dan penggalian potensi ekonomi bagi masyarakat,” kata Setyo.

Setyo menuturkan, tema yang diusung dalam FIABCI Asia Pacific Regional Secretariat Summit kali ini bisa diimplementasikan karena adanya kesesuaian dengan kondisi yang berlaku di kota-kota di Indonesia.

“Dengan ajang ini, kita bisa menggali lebih mendalam potensi yang ada dan bagaimana memadukan pembangunan pengembangan perkotaan sebagai upaya memberikan perlindungan kawasan warisan budaya secara harmonis dan berimbang,” kata Setyo yang juga Presiden FIABCI Indonesia.

Presiden FIABCI Asia Pacific, Teguh Satria menambahkan bahwa, budaya dan kota kota tua di indonesia ini cukup besar, namun belum termanfaatkan dengan baik.

“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat dicarikan solusi konkret, belajar dari pengalaman negara-negara tetangga mengelola kawasan kota-kota tuanya,” kata Teguh Satria.

Kendati, patut disadari bahwa persoalan dan hambatan pengelolaan kawasan kota tua yang dihadapi oleh Indonesia tentunya sangat spesifik dan berbeda dibandingkan pengalaman negara lain. “Namun, masukan berupa gagasan, ide, dan pengalaman dari berbagai negara lain tentu akan memperkaya masing-masing delegasi dalam upaya memecahkan persoalan yang dihadapi,” ucap Ketua Umum DPP REI periode 2007-2010 ini.

 

Penulis: IMM/ARD

Sumber:investor Daily

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s