6 Cara Kota-kota di AS Hindari Kebangkrutan

 

Pemandangan di suatu sudut Kota Detroit, AS

Pemandangan di suatu sudut Kota Detroit, AS
VIVAnews – Krisis moneter di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak pihak di Negeri Paman Sam kesulitan ekonomi. Tidak saja perusahaan-perusahaan Amerika yang jatuh pailit, sejumlah kota di sana pun bisa bangkrut.

Kota terkini yang menjadi korban krisis adalah Detroit. Dulu dikenal sebagai pusat industri otomotif kebanggaan Amerika, Detroit kini berstatus kota besar yang morat-marit setelah pemerintah setempat mengajukan perlindungan pailit ke pengadilan.

Detroit pun tidak lagi produktif seperti dulu setelah ditinggal pergi 1,2 juta warganya sejak dekade 1950an. Banyak warga tidak tahan menetap di kota yang tidak lagi menyediakan penghidupan yang layak namun menerapkan pungutan pajak yang tinggi dan manajemen birokrasi yang buruk.

Seperti sejumlah perusahaan di Amerika yang sebelumnya bangkrut, Detroit masih bisa diselamatkan. Namun butuh pengorbanan dari pemerintah, pengusaha, dan warga setempat agar kota di bagian utara AS itu kembali sehat.

Tidak mau ikut bangkrut, sejumlah kota di AS memikirkan beragam cara agar wilayah mereka selamat dari badai krisis dan tidak sampai menjadi kota mati. Stasiun berita BBCmengungkapkan setidaknya ada enam cara yang diterapkan sejumlah kota di Amerika Serikat itu.

1. Hancurkan Bangunan Terlantar.

Bangunan-bangunan seperti itu, bila dibiarkan, malah menjadi sarang gelandangan dan markas para kriminal serta tempat prostitusi. Kota Youngstown, di negara bagian Ohio, sudah menerapkan kebijakan tersebut.

Ditinggal pergi 120.000 warga sejak 1950an, Youngstown kini dihuni 66.000 jiwa. Dalam enam tahun terakhir, pemerintah setempat sudah merubuhkan 4.000 rumah terlantar.

“Sejak itu, kriminalitas berkurang. Rupanya banyak kriminal yang memanfaatkan rumah-rumah kosong itu untuk kelola barang curian, menjalankan prostitusi, dan menjual narkoba serta jadi sarang gelandangan. Namun, sejak rumah-rumah itu dirubuhkan kualitas hidup para warga membaik,” kata Janet Tarpley, anggota Dewan Kota Youngstown.

Namun, menghancurkan rumah-rumah terlantar itu tidak murah. Butuh anggaran US$10.000 per unit rumah. Kebijakan penghancuran itu juga dikritik kalangan warga karena juga menghancurkan banyak lingkungan dan membuat para pembangun properti enggan berinvestasi.

2. Jual Lahan Super Murah.

Cara ini diterapkan pemerintah kota Flint, negara bagian Michigan. Populasi kota itu kini tinggal setengahnya dibanding 50 tahun lalu.

Pada 2002, seorang warga yang kini menjadi anggota DPR, Dan Kildee, menerapkan suatu sistem yang disebut bank lahan. Dengan sistem ini pemerintah setempat bisa ambil alih properti atau lahan yang terlantar.

“Kami ambil alih properti itu melalui sita pajak yang sudah lama tidak dibayar. Ketimbang melelangnya ke Internet, kami simpan di bank lahan,” kata Kildee.

Selanjutnya, lahan itu dijual lagi ke warga setempat yang tinggal berdekatan dengan harga sangat murah yaitu hanya US$25. “Jadi ketimbang dibiarkan tidak terurus, lahan murah itu bisa dikelola oleh warga setempat. Bisa untuk membangun garasi mobil atau memperluas halaman rumah. Ini cara menggarap lahan yang produktif,” kata Kildee.

3. Lebih Kecil Justru Lebih Baik.

Menurut Kildee pola pikir lama orang-orang Amerika dalam membangun kota kini harus diubah. Kota tidak lagi harus besar dan sangat luas demi mencapai pertumbuhan dan kemakmuran. “Kami perlu pikir ulang untuk mendefinisikan seperti apa kemakmuran itu,” kata Kildee.

4. Bangun Institusi

Pittsburgh dulu dikenal sebagai pusat industri baja Amerika. Kini setelah status itu tidak lagi disandang, pemerintah Pittsburgh harus terapkan strategi baru.

Salah satunya, mengubah wajah Pittsburgh tidak lagi sebagai kota pabrik. Institusi-institusi pendukung pun mulai didirikan. Selain itu Pittsburgh sukses menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi G20 pada 2009. Pertemuan itu khusus untuk pemimpin dari 20 negara maju dan berkembang dan diyakini sebagai motor ekonomi dunia saat ini.

5. Tidak Terjebak ke Masa Lalu.

Itulah yang tengah diterapkan Kota Pittsburgh. Masa keemasan sebagai kota industri baja sudah lama lewat. Menurut Profesor Michael Madison dari Universitas Pittsburgh, kota itu sudah harus beranjak dari statusnya di abad ke-20 menuju kota modern. “Semua orang cinta dengan sejarahnya sebagai kota baja, namun harus terima kenyataan bahwa status itu tidak akan kembali lagi,” kata Madison.

6. Sediakan Lahan Kerja yang Tepat

Saat industri baja jatuh, pimpinan Kota Pittsburgh harus mencari cara bagaimana menghidupan industri baru yang bisa menyediakan lapangan kerja yang besar. Muncul strategi membuat pabrik-pabrik televisi atau mobil.

Namun, menurut Madison, strategi itu bukan solusi jitu karena Pittsburgh akan kalah bersaing dengan kota-kota lain di Asia yang sudah mampu memproduksi televisi atau mobil dalam jumlah besar dan harga produksi yang lebih murah.

Dia menyarankan agar Pittsburgh berkonsentrasi ke industri jasa maupun menonjolkan pendidikan universitas, pusat medis, dan bisnis teknologi canggih. Selain itu menumbuhkan lapangan kerja lokal yang sudah ada jauh lebih penting ketimbang mengimpornya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s