Ayam Penyet Super Pedas, Awas Ketagihan

detail berita
AYAM penyet belakangan digandrungi masyarakat Jakarta. Bagi yang suka pedas, awas ketagihan!

Hidangan khas Surabaya ini adalah ayam goreng yang disajikan sederhana dengan sambal berikut lalapan. Ayam lebih dulu diungkep dengan bumbu, kemudian dipenyet agar empuk.

Kedengarannya biasa saja? Pikir lagi. Bagi yang suka pedas, masakan ini boleh jadi pemuas selera yang paling dinantikan. Ya, keistimewaan hidangan ini di samping daging ayamnya, terletak pada sambalnya yang teramat pedas.

Nah, Ayam Penyet Everest merupakan salah satu rumah makan yang menjadi incaran orang. Lokasinya di Jalan Mampang Prapatan Raya nomor 21, bisa untuk alternatif tempat berbuka puasa. Di meja telah terhidang ayam penyet, cah kangkung, tahu goreng, dan singkong ala Thailand yang khusus disajikan hanya saat Ramadan.

Saat beduk ditabuh, takjil kolak yang dibagikan cuma-cuma dan segelas teh tawar hangat menjadi pembasah tenggorokan. Ahh..alhamdulillah. Berikutnya, langsung saja masuk ke hidangan inti tanpa basa-basi lagi.

Ayam penyet dihidangkan sekaligus dengan sambal dan lalap dalam sebuah cobek kecil dengan nasi. Potongan ayam berukuran sedang dengan daging yang empuk. Terasa sekali proses pengungkepan sempurna karena rempahnya masuk ke daging dengan merata.

Sambalnya sangat pedas. Mantap sekali! Dominan terasa bawang putih. Ulekannya sederhana, hanya bawang putih dan cabai rawit. Makanya pedasnya dahsyat. Namun, justru itu yang bikin ketagihan.

Kendati keringat bercucuran, rasanya tak akan kapok sampai sambal benar-benar tandas. Sebaiknya bagi yang perutnya tak kuat, jangan terlalu banyak mengonsumsi sambal ini. Terlebih untuk menu berbuka.

“Di sini, dalam sehari bisa menghabiskan 3-4 kilogram cabai rawit,” ujar Dewi Aryani, sang pemilik.

Dewi mengatakan, ayam penyet merupakan makanan khas Surabaya. Namun, sebagai tandingannya disediakan sambal terasi, bukan sambal bawang.

“Saya pengenbeda, makanya pakai sambal bawang. Sementara sambal terasinya untuk bebek goreng atau tahu goreng,” ujar Dewi yang sebelumnya membuka usaha pertama di bilangan Pondok Gede pada 2011.

Sajian ayam penyet ini sejalan dengan citarasa Surabaya yang cenderung gurih dan pedas. Sebelum digoreng, ayam diungkep dengan bumbu seperti bawang putih, ketumbar, kunyit, jahe, lengkuas, dan garam. Kemudian digoreng hingga kering dan dipenyet atau digeprek di atas sambal cabai rawit merah. Rasanya yang pedas gurih cocok dimakan dengan nasi pulen hangat.

Di samping ayam penyet, ada pula ayam bakar dan bebek penyet atau bebek goreng. Daging bebeknya empuk karena dipresto lebih dulu selama 30–35 menit. Saat akan digoreng, daging bebek kembali diolesi dengan bumbu ungkep agar semakin terasa. Anda dapat menyantap daging ayam atau bebek ini dengan cah kangkung atau cah taoge.

Dewi mengaku, dalam satu hari rumah makannya bisa menghabiskan 75-100 ekor ayam. Kebanyakan pesanan datang dari layanan delivery. Pelanggan meliputi segenap perusahaan, baik di Jakarta Selatan maupun Jakarta Pusat.

Untuk minuman, ada berbagai jus segar, lemon squash, dan kyuri lime. Khusus pada bulan puasa, disediakan takjil seperti kolak, singkong Thailand, kurma, dan es buah. Tak perlu menunggu sampai gajian tiba, harga yang dipatok cukup murah. Makan berdua hanya menghabiskan sekitar Rp50.000.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s