Category Archives: Banking

Kantor Pajak di Bekasi Dirampok, Rp 10 Juta Raib

Jakarta – Kawanan perampok menyatroni Kantor Pelayanan Pajak Kota Bekasi, Kamis (18/7) dini hari tadi. Pelaku yang diperkirakan berjumlah lima orang itu berhasil membawa kabur uang di brankas senilai Rp 10 juta.

Informasi yang diperoleh detikcom, perampokan terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Dua orang pelaku masuk ke dalam kantor pajak melalui pintu kecil di pagar samping bangunan kantor. Setelah dua orang masuk, diikuti oleh 3 orang pelaku lainnya.Para pelaku kemudian masuk ke lobby kantor pajak. Namun, setibanya di lobby, para pelaku itu dipergoki oleh satpam yang sedang piket di kantor pajak tersebut.

Para pelaku langsung bereaksi dengan mengikat satpam tersebut. Setelah mengikat satpam, pelaku juga bertemu dengan office boy dan warga yang sering tidur di kantor pajak. Keduanya juga langsung diikat dan dilakban matanya oleh pelaku.

Setelah korban tidak berdaya, dua pelaku merampas kunci ruangan-ruangan kantor pajak yang dipegang oleh satpam. Para pelaku kemudian dengan leluasa menuju lantai 2 ruang bendahara dan kepala kantor.

Di situ pelaku mengacak acak ruang tersebut, menggeledah seisi ruangan untuk mencari barang berharga atau uang. Di ruang bendahara, pelaku membongkar brangkas dengan menggunakan sarung tangan.

Pelaku berhasil mengambil uang Rp 10 juta dari dalam brankas dan Rp 1,5 juta dari dompet office boy. Saat ini, kasus masih diselidiki aparat kepolisian setempat.

Advertisements

12 Bank Terbaik di Dunia

Banyak sekali bank yang beroperasi di Indonesia, apalagi bank di seluruh dunia. Bank yang tidak bisa berkompetisi akhirnya gulung tikar, sedangkan yang memiliki modal besar dan dapat kepercayaan nasabah tetap eksis bahkan bisa berkembang lebih besar dan maju lagi. Bank mempunyai peran penting dalam perekenomian suatu bangsa.

Dari sekian banyak bank yang ada di seluruh dunia, ada 12 bank yang memiliki peringkat terbaik di dunia. Peringkat ini didasarkan atas besarnya aset yang dimiliki oleh bank, juga berdasarkan kemampuan bank untuk meminjamkan uang kepada nasabahnya dan mampu menjalankan operasionalnya dengan baik.
Berikut 12 Bank Terbaik Di Dunia :
  1. Industrial and Commercial Bank of China. Cina telah menarik perhatian dunia begitu juga dalam hal keuangan. Bank ini memiliki aset senilai 2.788.905,72 dolar pada tahun 2013.
  2. JP Morgan Chase & Co. Bank yang berasal dari Amerika telah erat memegang posisi ke-2 dari tahun 2012 sebagai bank terbesar di dunia. JP Morgan Chase & Co yang berkantor pusat di New York, dan memiliki nilai aset sebesar 2.359.141 dolar.
  3. Bank of America. Bank yang berasal dari Amerika ini diperdagangkan dengan NYSE, S & P 500 dan Dow Jones industrial average. Bank ini memiliki aset senilai 2.212.004,45 dolar. Pada tahun 2009, bank yang memegang 12,2 persen dari semua deposito bank di AS selain melayani hingga 80 persen dari pelanggan di perbankan ritel.
  4. HSBC Holdings. HSBC Holdings P.L.C. adalah sebuah perusahaan jasa keuangan Inggris yang berdiri pada tahun 1865 dan berkantor pusat di London. Saat ini perusahaan telah beroperasi di 85 negara yang meliputi Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan. HSBC memiliki 7, 200 cabang di seluruh dunia yang melayani 89 juta pelanggan di seluruh dunia.Sekarang nilai aset perusahaannya sebesar 2.692.538 dolar.
  5. Citigroup. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1812 dan kantor pusat di New York City itu dianggap sebagai salah satu lembaga keuangan terbesar di dunia yang memiliki cabang di 140 negara. Bank ini memiliki aset senilai 1.864.660 dolar.
  6. Bank of China. Bank yang didirikan oleh pemerintah Republik Cina pada tahun 1912 dan dianggap sebagai salah satu bank tertua di negara ini. Bank ini memiliki total aset sebesar 2.015.996,03 dolar.
  7. Royal Bank of Scotland. RBS telah memperluas bisnis mereka ke 700 cabang di seluruh dunia. Bank ini terkenal memiliki banyak pesaing dari sektor keuangan lama dan baru, salah satu rivalnya tersebut adalah Bank of Scotland.
  8. Barclays. Bank yang terkenal karena mensponsori Liga Inggris ini banyak beroperasi di sektor ritel, grosir dan investasi perbankan, manajemen kekayaan, pinjaman hipotek serta kartu kredit. Barclays adalah sebuah perusahaan keuangan berbasis di Inggris yang berkantor pusat di London dan memiliki total aset sebesar 2.350.664 ,04 dolar pada tahun 2013.
  9. Goldman Sachs. Bank ini terlibat dalam perbankan global investasi, sekuritas, manajemen investasi dan jasa keuangan lainnya terutama dengan nasabah institusi. Bank yang berbasis di AS yang telah yang bermarkas di New York City ini memiliki total aset sebesar 938.770 dolar.
  10. Deutsche Bank. Bank yang berbasis di Jerman ini telah berubah selama lima tahun terakhir. Perusahaan ini telah keluar dari sebuah organisasi sentris di Jerman ke sektor ritel dan komersial, tumbuh lebih baik untuk bank investasi global.
  11. Morgan Stanley. Bank yang berbasis di AS ini memiliki nilai aset sebesar 780.960 dolar dan bermarkas di New York City. Awalnya perusahaan ini beroperasi dengan pangsa pasar 24 persen dalam penawaran umum dan kepemilikan pribadi. Penerimaan maksimum untuk perusahaan dari Manajemen Kekayaan Global, Efek Kelembagaan, dan Manajemen Investasi.
  12. ING Bank. Lembaga keuangan ini berbasis di Belanda dan berkantor pusat di Amsterdam. Bank ini berkonsentrasi pada perbankan ritel, perbankan langsung, perbankan komersial, perbankan investasi, manajemen aset, dan jasa asuransi.

Rupiah “Berkubang” di Rp9.700

Ilustrasi (Foto: Okezone)

Ilustrasi (Foto: Okezone)
JAKARTA – Nilai mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berkubang di angka Rp9.700. Rupiah ditutup di Rp9.743 per USD.

Kurs Tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, hari ini, mata uang Garuda bergerak di antara Rp9.725-Rp9.743. Sementara Bloomberg mencatat Rupiah naik tipis 0,11 persen di Rp9.750 per USD.

“Rupiah masih akan bergerak di kisaran sempit antara Rp9.740-9.750 per USD” ujar analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih dalam riset harian, Rabu (3/4/2013).

Lana menyebut, mundurnya isu pembatasan BBM subsidi serta naiknya angka pengangguran di Eropa masih memberi sinyal adanya resesi ekonomi dan membuat nilai tukar enggan bergerak. (gnm)

Warga Fatmawati Masih Tolak Pembangunan MRT Secara Melayang

 

Ilustrasi jalur MRT di Jakarta
Ilustrasi jalur MRT di Jakarta (sumber: jakartamrt.com)

Jakarta – Rencana pembangunan sarana transportasi massal Massive Rapid Transportation (MRT) belum juga bisa diputuskan karena sebagian masyarakat yang berada di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, masih keberatan dengan pembangunan tersebut.

Rully Daniel, salah satu warga dari perwakilan MRT Peduli dan tinggal di daerah Panglima Polim, Jakarta Selatan, mengatakan, pihaknya sangat mendukung pembangunan sarana transportasi massal tersebut. Namun dengan catatan, MRT itu dibangun di bawah tanah (subway).

“Kami dukung pembangunan MRT, dengan catatan ketika MRT tersebut tidak merugikan warga. Dari Kampung Bandan ke Ratu Plaza ada subway, tapi di area yang semakin sempit kami sangat sayangkan, justru menjadi elevated yang akan merusak kerapian Jakarta Selatan,” ujar Rully saat dilakukan uji publik MRT bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta, di Balai Kota, Rabu (20/2).

Dikatakannya, area di sekitar kediamannya tersebut sudah menjadi area yang tertata sejak tahun 1960. Begitupula dengan para pedagang yang berada di Pasar Blok A, Pasar Cipete, dan Pasar Mede yang mengaku sudah eksis sejak puluhan tahun lalu.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, tidak mungkin MRT dibangun seluruhnya secara subway, karena biayanya akan naik tiga kali lipat.

“Kalau semua bawah tanah, biayanya tiga kali lipat setelah dihitung dan dikalkulasi. Itu jatuhnya nanti ke masyarakat lagi,” ujar gubernur yang akrab disapa Jokowi itu.

Dikatakan mantan Wali Kota Solo ini, biaya pembangunan akan lebih mahal apabila dibangun di bawah. Dengan demikian, harus seluruhnya dibuka sehingga seluruh masyarakat mengerti alasan mengapa pembangunan dilakukan di atas.

“Itu karena biaya. Kenapa? Karena beban masyarakat jadi turun dengan dibangun di atas,” tambahnya.

Uji publik MRT yang dilakukan untuk kedua kalinya ini belum mendapatkan hasil. Jokowi pun belum dapat memberikan keputusan terkait dilanjutkan atau tidaknya pembangunan tersebut, karena masih adanya protes dari beberapa warga Fatmawati yang tidak mau lingkungannya terganggu dengan rencana pembangunan MRT secara melayang di kawasannya.

Guna membuat realisasi dari pembangunan MRT ini cepat, dalam uji publik itu, Jokowi pun menerima usulan dari perwakilan warga untuk membentuk suatu komite yang melibatkan masyarakat. Hal tersebut supaya permasalahan yang muncul dalam pembangunan MRT ini bisa diselesaikan dan antara pemerintah serta masyarakat bisa mendapatkan solusi untuk itu.

Hal yang Perlu Dilakukan Pemerintah Saat Proses Sosialisasi Rp 1.000 Jadi Rp 1

Jakarta – Ekonom Ryan Kiryanto menyarankan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mengutamakan pemberian informasi kepada masyarakat selengkap-lengkapnya dalam tahap sosialisasi redenominasi. Hal ini akan mempermudah masyarakat untuk mencerna kebijakan tersebut.

“Manfaat yang nantinya diterima publik apa, itu yang mesti dijawab dulu,” ungkap Ryan kepada detikFinance di Gedung MNC, Jakarta, Senin (28/1/2013)

Ryan menuturkan beberapa hal yang bisa diutarakan kepada masyarakat mengenai manfaat redenominasi. Pertama adalah terkait dengan skala transaksi keuangan.

“Kita lebih menjadi simple, karena di dalam skala transaksi keuangan terjadi penyederahanaan mata uang karena penghilangan tiga digit angka nol,” paparnya.

Kedua, sambungnya adalah rasa kebanggaan dibandingkan dengan negara lain. Sebab, jika sebelumnya menyebut US$ 1 sama dengan Rp 9 ribuan maka setelah redenominasi US$1 sama dengan Rp 5 atau Rp 6.

“Kan dekat 1 dengan 6 dibanding 1 dengan 9 ribu jauh sekali. Itu kebanggan yang tidak bisa diukur dengan angka,” jawabnya.

Selain dengan menyatakan manfaat, pemerintah dan BI juga harus merangkum hasil dari konsultasi publik. Ryan menilai harus ada format sosialisasi dengan question and answer (Q and A). Disamping komunikasi yang dilakukan secara intensif.

“Kekhawatiran itu makanya itu mesti di-capture, ditangkap, diindetifikasi untuk nanti dijelaskan. Jadi dalam proses redenominasi harus ada proses Q and A. Kalau begini gimana begini ada jawabnya. Jadi itu harus disebarluaskan ke masyarakat, lewat berbagai komunikasi,”tutupnya

Ide Bagus Jika Tarif Pajak Bagi Orang Kaya Indonesia Dinaikkan!

Foto: Internet

Jakarta – Indonesia bisa saja meniru langkah AS, Prancis, dan Jepang yang siap menaikkan tarif pajak bagi orang kaya di negaranya. Asalkan, penerimaan dari pajak nantinya digunakan untuk pelayanan publik yang baik dan berkualitas.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Megawati Institute Arif Budimanta ketika berbincang dengan detikFinance, Selasa (15/1/2013).

“Ide bagus jika tarif pajak bagi orang kaya dinaikkan. Kebijakan pajak kita memang harus direvaluasi, terutama tarif pajak kepada individu super kaya yang jumlahnya banyak di Indonesia,” ungkap Arif.

Saat ini, menurut Arif pajak penghasilan perorangan yang tertinggi di Indonesia adalah sekitar 30%. Ini dibebankan bagi yang berpenghasilan di atas Rp 500 juta.

“Di AS dan Prancis itu dinaikkan. Asal kemudian uang pajaknya dikembalikan untuk pelayanan publik yang lebih baik dan berkualitas,” tegas Arif.

Menurut Arif, pajak pada dasarnya merupakan salah satu instrumen pemerataan pembangunan dan alat pendistribusi keadilan. Menurutnya, penerimaan pajak yang masih ‘memble’ perlu ditingkatkan oleh pemerintah dengan berbagai cara.

“Terutama kesadaran masyarakatnya sendiri. Sebaiknya pemerintah mulai menggalakkan agar toko, supermarket, mal mencantumkan harga barang dengan memisahkannya dari pajak. Harga barang sebelum dan sesudah terkena pajak agar dicantumkan,” tuturnya.

Sebelumnya, setelah AS dan Prancis mengusung rencana menaikkan pajak bagi orang-orang kaya di negaranya, ternyata Jepang juga bakal melakukan hal serupa. Pasalnya utang Jepang yang kian ‘menggunung’ membuat cemas pemerintahan Shinzo Abe ini.

Di negeri Paman Sam kebijakan tersebut ditolak oleh Partai Republik yang berkomitmen menentang kenaikan tarif pajak. Namun bulan ini, mereka menyetujui kenaikan pajak pendapatan hanya setelah mendapat desakan kuat dari Presiden dari Partai Demokrat, Barack Obama

BI Buat Rumusan Langkah Kendalikan Rupiah

Ilustrasi mengisi BBM. (Foto: Jakarta Globe)

Ilustrasi mengisi BBM. (Foto: Jakarta Globe) (sumber: Jakarta Globe)

Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cukup besar, menyebabkan neraca perdagangan minyak dan gas mulai defisit.

Bank Indonesia (BI) telah merumuskan langkah-langkah untuk mengendalikan nilai tukar rupiah yang belakangan bergerak di luar proporsinya. Namun, langkah-langkah tersebut lebih dituangkan dalam kebijakan langsung ketimbang aturan khusus.

“Kami mengikuti perkembangan ini dengan cermat, jadi kami sudah merumuskan langkah untuk mengendalikan nilai tukar rupiah kembali ke proporsinya atau fundamentalnya. Tapi saya tidak akan menceritakannya,” kata Gubernur BI Darmin Nasution ketika ditemui di kompleks perkantoran BI, Jakarta, Jumat (11/1).

Darmin mengatakan, kondisi ekspor yang belum membaik, sedangkan impor tetap tinggi, dibaca pasar sebagai kondisi neraca pembayaran yang semakin melemah.

Namun, dia menegaskan, transaksi modal dan finansial sebenarnya tetap positif di saat transaksi berjalan defisit.

Dia mengatakan, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cukup besar memang membuat impor BBM semakin besar. Hal itu menyebabkan neraca perdagangan minyak dan gas mulai defisit.

Menurut Darmin, terdepresiasinya rupiah yang hari ini sempat mencapai Rp 9.900 terutama disebabkan oleh sejumlah eksportir yang menahan dolarnya. Artinya, para eksportir tersebut tidak menjual dolarnya ke pasar, sehingga dolar menjadi langka.

“Kalau valuta asing (valas) dari eksportir sudah masuk tapi tidak ditukarkan ke rupiah, itu tidak menambah suplai valas di pasar. Banknya juga tidak berani menggunakan, mungkin hanya berani ketika bank itu memang ingin memberikan kredit dalam dolar,” jelas dia.

Dia mengemukakan, kondisi devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk ke perbankan domestik sebenarnya semakin baik. Namun, para eksportir tersebut enggan menjual dolar sehingga membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Mereka menahan dolar karena membaca neraca transaksi berjalan yang defisit itu. Padahal, jangan hanya lihat itu, lihat juga transaksi modal dan finansialnya,” ungkap Darmin.

Sepanjang 2012, BI mencatat, nilai tukar rupiah terdepresiasi, namun masih dalam volatilitas yang cukup rendah. Secara point to point atau sejak 1 Januari 2012 hingga 31 Desember 2012, rupiah melemah sebesar 5,91% (year on year) ke level Rp 9.638 per dolar Amerika Serikat.

Tekanan depresiasi terjadi pada triwulan II dan III, terkait memburuknya kondisi perekonomian global terutama di kawasan Eropa yang membuat portofolio asing menurun. Di sisi domestik, permintaan valas sangat tinggi terutama untuk kebutuhan impor.

Cadangan devisa hingga akhir Desember 2012 tercatat mencapai US$ 112,78 miliar atau setara dengan 6,1 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ke depan, BI tetap mewaspadai defisit transaksi berjalan dengan mempererat koordinasi bersama pemerintah.

BI: Bank Persero Bakal ‘Ngebut’ di 2013

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

Ilustrasi. (Foto: Okezone)
JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengungkapkan, bank persero mengalami pergerakan sedikit lebih lambat di tahun 2012 dibandingkan dengan bank swasta.

Darmin juga menambahkan, tidak semua bank persero dan swasta selalu sama pergerakannya. Karena itu, dia memperkirakan bank persero akan lebih cepat bergerak di tahun 2013, terlihat dari bisnis dan komunikasi dengan BI.

“Tidak selalu sama dan tiap tahun akan berganti-ganti pergerakannya baik persero maupun swasta, ada yang konsolidasi dulu baru ekspansi lagi, karena tahun lalu sebaliknya dan diperkirakan tahun 2013 ini persero akan lebih cepat”, ujar Darmin di Jakarta, Kamis (10/1/12).

Jadi, lanjut dia, jangan selalu mengira tahun lalu dan tahun ini selalu sama pergerakannya. Menurutnya, lambat atau cepatnya pertumbuhan bank tergantung pergerakan bisnis bank tersebut. (wdi)

Rupiah Melemah ke Rp 9.700/US$, Agus Marto: Itu Tidak Apa-apa

Jakarta – Menteri Keuangan Agus Martowardojo menilai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di kisaran Rp 9.700 memberikan dampak yang positif pada neraca perdagangan di Indonesia. Padahal, realisasi nilai tukar ini jauh dibandingkan asumsi di APBN 2013 yang mematok rupiah pada level Rp 9.300.

“Nilai tukar rupiah Rp 9.700/US$ itu tidak apa-apa. Nanti kita lihat rata-rata setahun, saya yakin Bank Indonesia yang memahami dan perhatikan itu,” jelas Agus Marto saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (8/1/2012).

Menurut Agus Marto, dengan melemahnya nilai tukar ini dapat meningkatkan sektor ekspor, sekaligus menurunkan impor karena tingginya harga barang.

“Kalau kita punya nilai tukar rupiah di Rp 9.500-9.700/US$ ya dampaknya ke ekspor-impor month to month, tidak terjadi peningkatan impor yang tinggi, tapi ekspor justru ada peningkatan karena eksportir merasa ada faktor nilai tukar rupiah sementara importir merasa ada kemahalan kalau dia melakukan impor,” tandasnya.

Agus Marto menambahkan kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan guna memperbaiki neraca perdagangan Indonesia yang sempat defisit pada tahun 2012.

“Trade Balance kita setahun ini defisit, itu adalah kondisi yang selama ini tidak dialami Indonesia, jadi kita perlu upaya lebih dan ini tidak hanya kita katakan faktor eksternal tapi betul-betul jaga produktivitas dan perbaikan aktivitas ekspor impor kita,” tandasnya.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah saat ini melemah di kisaran Rp 9.740/US$ berdasarkan kurs tengah BI. Data Reuters, hari ini menunjukkan rupiah dibuka pada Rp 9.800/US$ atau nilai terendahnya terhadap dolar dalam 3 tahun terakhir.

info ekonomi : Bank Bakal Kurangi Kredit ke Sektor Komoditas

Headline

Ilustrasi

 

INILAH.COM, Jakarta – Kredit perbankan ke sektor komoditas akan dikurangi, karena sektor ini dianggap berisiko tinggi. Hal ini terkait masih melemahnya harga dan permintaan.

Menurut ekonom senior Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, Non Performing Loan (NPL) di sektor komoditas terlihat meningkat. “Karenanya saya perkirakan perbankan akan mengalihkan kreditnya ke sektor telekomunikasi, konsumer, infrastruktur dan tekstil,” ujar Lana di Jakarta, Jumat (4/12/2013).

Non Performing Loan (NPL) adalah perbandingan antara kredit bermasalah dengan total kredit yang disalurkan bank ke masyarakat.

Sebelumnya, Kepala Riset Kim Eng Securities Indonesia, Katarina Setiawan dalam risetnya memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan tahun ini sebesar 22%.

Namun, Katarina berharap ekses penurunan harga komoditas akan berdampak minim pada besaran kredit bermasalah perbankan. Dia pun memprediksi kredit perbankan ke sektor komoditas tahun ini hanya sebesar 9% dari total pinjaman perbankan. [ast]