Category Archives: Science

Mice Don’t Like Cheese

(Photo: Courtesy of todayifoundout.com)

Source of the news: http://www.todayifoundout.com/index.php/2012/09/mice-dont-like-cheese/

Myth: Mice love cheese and it makes a great bait for mouse traps.

In fact, as any pest exterminator or pet shop owner knows, mice don’t really like cheese at all and they’ll even actively shy away from certain types of cheese (they have a very sensitive sense of smell and certain cheeses give off odors that are repulsive to many types of mice).

According to Dr. David Holmes of Manchester Metropolitan University who recently did a study on whether mice liked cheese or not, while if hungry enough, mice will pretty much eat anything (even nibble on you, cardboard, whatever), most type of mice strongly prefer grains, fruits, and sweet things; certain types of mice will also eat insects and other small animals.  Basically, they like to eat what they’ve been accustomed to eating since before humans started making cheese around 10,000 years ago.

So how did the myth that mice liked cheese get started?  Nobody knows.  It’s been around for a long time, even being mentioned by philosopher Lucius Annaeus Seneca about 2000 years ago:

“Mouse” is a syllable.  Now a mouse eats its cheese; therefore, a syllable eats cheese…  Without a doubt, I must beware, or some day I shall be catching syllables in a mousetrap or, if I grow careless, a book may devour my cheese!  Unless, perhaps, the following syllogism is shrewder still: Mouse is a syllable.  Now a syllable does not eat cheese.  Therefore a mouse does not eat cheese. -From Seneca’s Letters – Book II Letter XLVIII

The leading theory as to the origin of the mouse/cheese myth, which isn’t based on any actual evidence, is that it probably had to do with people thousands of years ago mostly stocking grains, highly salted meats, and cheese as their food stuffs they kept on hand. The grains and meats were commonly stored in such a way as to keep vermin away.  On the other hand, cheese that needs to “breathe” perhaps was not so securely stored.  Inevitably, a mouse that is hungry enough will eat the cheese, leaving little teeth marks, leading people to think that mice seek out cheese.  But again, this theory is pure speculation and it seems odd that people who would actively protect grains and meats from vermin would start thinking from this that the vermin preferred the thing they weren’t as actively protecting.  So, needless to say, I personally find the next theory more plausible, though who knows really.

Dr. Holmes suggests that the myth may have arisen from some ancient legend or other as mice frequently popped up in various ancient mythologies.  He didn’t specifically offer any suggestions on what myth this may have been from.  But after a little digging, I found one potential connection, albeit a bit tenuous. White mice were often kept under the altars in Apollo’s temples in Ancient Greece.  Apollo himself was often referred to as “Apollo Smintheus”, meaning “Apollo the Mouse”. One of Apollo’s children, Aristaeus, in Ancient Greek mythology is credited with teaching mankind to make cheese, which he learned from the Myrtle-nymphs.  So perhaps the connection between mice and cheese stemmed from some sub-legend in there or some artists depiction of Apollo and Aristaeus, which included mice and cheese in the painting.  Again, nobody really knows, but it’s always fun to speculate.

As to why this myth has seemed to only grow stronger with time, Dr. Holmes notes ,

Cartoonists like to draw little segments of cheese with holes in them and little mice’ faces poking out of them.  They will admit this and they say quite simply it’s a really good image and it’s the kind of image we will continue to use, even though we know mice don’t like cheese.

So it’s possible even early artists included this imagery in paintings simply because it makes a “really good image”.

Whatever the origin, given that mice aren’t overly fond of cheese, it doesn’t exactly make the most effective bait in a mouse trap (and has a side hazard of accidentally injuring your cat, if you have one, given that many house cats love cheese!)

So if cheese isn’t an effective bait for mouse traps, what is?  Turns out, mice go crazy for peanut butter (aside: peanuts are not actually nuts).  They also like chocolate (the sweeter the better).  So one would think from this that Reese’s peanut butter cups might be good bait.  At the same time, it seems a shame to let such delicious goodness be wasted on mice (though depending on trap type, it may be their last meal, so you might as well give them a good little taste before the “snap!”  Or, you know… use humane traps you heartless gravy-eye’d bestially burking bogan.)

On the other hand, one person I know who keeps a couple mice as pets says that their favorite treat is Multi-Grain Cheerios dipped in peanut butter.  They go crazy for them. (Incidentally, she confirmed that unless she has forgotten to feed her mice for a while, they won’t go for cheese, something she learned early on as she had initially thought that they loved cheese and tried to feed it to them.)

Stephen Turner, the managing director of the largest mousetrap distributor in Europe, Pest Control Shop, also noted that “inner city mice” who’ve become very accustomed to surviving on fast food scraps love McDonald’s hamburgers (bits of bun and all).

Procter Rodent Control, on the other hand, besides recommending peanut butter for mouse traps, also states that “Maltesers” work phenomenally well. (For those not familiar, as I wasn’t, Maltesers are similar to Whoppers, basically malted milk balls surrounded by a thin layer of chocolate.)

Helm Ini Bukan untuk Naik Motor, Tapi Menumbuhkan Lagi Rambut yang Botak

img 

Source for the news comes from: http://wolipop.detik.com/read/2013/10/09/081734/2381967/860/helm-ini-bukan-untuk-naik-motor-tapi-menumbuhkan-lagi-rambut-yang-botak?w991100most

Jakarta – Kebotakan rambut, terutama di usia yang belum menua bisa mengganggu penampilan. Berbagai metode pun diciptakan untuk mengatasinya. Mulai dari penggunaan shampo dan kondisioner, serum, hair mask, suntik obat sampai implan rambut.

Semakin majunya teknologi, metodenya pun makin canggih. Telah diciptakan helm high-tech yang diklaim bisa membantu menumbuhkan rambut dengan bantuan laser. iGrow Hair Growth System, adalah nama helm tersebut. Menggunakan terapi laser tingkat rendah (LLLT) dan lampu LED, iGrow mampu meregenerasi dan menguatkan sel-sel pada folikel rambut.

Helm ini juga diklaim bisa menumbuhkan kembali rambut pada orang yang mengalami penipisan rambut, kebotakan akibat faktor keturunan, dan faktor-faktor lain penyebab rambut rontok. iGrow harus dipakai tak lebih dari 25 menit setiap hari. Helm canggih ini telah dilengkapi dengan headphone, buil-in iPod dan MP3 yang bisa didengarkan selama memakainya.

Meskipun berteknologi canggih, hasilnya tidak bisa didapatkan secara instan. Seperti dikutip dari Daily Mail, rata-rata orang yang menggunakan iGrow kebotakan rambutnya akan berkurang setelah enam hingga delapan minggu pemakaian. Hasil yang optimal bisa terlihat setelah sembilan bulan. Alat ini juga diklaim tidak memiliki efek samping dan dijual dengan harga 665 Poundsterling atau sekitar Rp 12 jutaan.

Benarkah iGrow efektif menumbuhkan kembali rambut yang rontok atau botak? Dr Thomy Kouremada-Zioga, seorang ahli bedah spesialis transplantasi rambut di THe Private Clinic of Harley Street memberikan pendapatnya.

Ia mengatakan, LLLT merupakan perawatan menggunakan terapi cahaya yang cenderung aman dan telah lama dikenal sebagai resolusi yang potensial untuk mengatasi kerontokan rambut akibat faktor genetik pada pada pria dan wanita. “Alat ini ditujukan untuk pria dan wanita yang mengalami penipisan rambut atau botak sebagian yang disebabkan oleh keturunan, tapi bukan karena faktor lain,” ujar Dr Thomy.

Dia juga menambahkan, teknologi ini (penggunaan laser) sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Tapi sudah ada sejak beberapa tahun lalu hanya saja bentuknya berbeda, tidak dalam bentuk helm. Dr Thomy pernah menyarankan pada beberapa pasiennya untuk menggunakan sisir laser yang cara kerjanya mirip dengan iGrow. Yaitu dengan teknologi LLLT hanya saja dalam ukuran yang lebih kecil.

“Dari beberapa pasien yang menggunakan sistem ini, saya melihat ada hasil yang positif ketika dikombinasikan dengan produk lain yang menstimulasi pertumbuhan rambut,” katanya.

Tapi Dr Thomy mengingatkan, alat ini sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya solusi untuk mengatasi kebotakan rambut. Terlebih lagi jika ingin digunakan dalam jangka panjang. Sebab meskipun rambut yang tipis bisa terlihat lebih tebal dan sehat, pertumbuhan rambut tidak akan setara dengan ketika rambut masih tumbuh normal. Menurutnya, sebelum membeli alat ini, sangat penting untuk memahami apa penyebab sebenarnya dari kerontokan dan kebotakan rambut. Untuk itu diperlukan konsultasi dokter kulit terlebih dahulu.

20 Tahun Lagi, Orang yang Sudah Mati Bisa Dihidupkan Keesokannya

Jakarta, Tanpa jampi-jampi atau mantra sihir, seorang dokter bisa mengembalikan nyawa pasien yang sudah dinyatakan meninggal. Teknik ini disebut dengan teknik resusitasi. Bahkan salah seorang ahli mengatakan, pasien yang sudah tak bernyawa mungkin bisa dihidupkan lagi keesokannya.

Tak banyak dokter yang memiliki spesialisasi dalam hal resusitasi. Salah satunya adalah dr Sam Parnia yang telah menulis buku berjudul ‘Eerasing Death’. Dalam bukunya itu, dia menjelaskan bahwa teknik resusitasi akan mencapai puncaknya dalam 20 tahun ke depan.

“Dengan pengobatan saat ini, kita bisa membuat orang hidup kembali dalam waktu 1 atau mungkin 2 jam, kadang-kadang bahkan lebih lama setelah jantungnya berhenti berdetak dan mati akibat gagalnya peredaran darah. Di masa depan, kita mungkin akan lebih baik lagi dalam membalikkan kematian,” katanya seperti dilansir Fox News, Kamis (1/8/2013).

Bahkan dr Sam menyebutkan, mungkin dalam 20 tahun mendatang, ilmu kedokteran dapat mengembalikan orang yang sudah 12 jam atau bahkan 24 jam setelah dinyatakan meninggal. Saat ini, rata-rata pasien serangan jantung yang berhasil diresusitasi di AS adalah 18 persen, sedangkan di Inggris 16 persen.

Namun di tangan dr Parnia yang berpraktik di New York, kemungkinan pasien yang berhasil diresusitasi olehnya sekitar 33 – 38 persen. Walau tidak seluruhnya, kebanyakan pasien yang berhasil diselamatkan tersebut tidak mengalami kerusakan saraf sama sekali.

“Anda bisa menyebut itu ‘kebangkitan’ jika Anda mau. Tapi aku masih menyebutnya ilmu pengetahuan resusitasi,” katanya.

Lebih lanjut lagi, dr Parnia mengatakan bahwa kebanyakan dokter keliru memahami bahwa otak akan menderita kerusakan besar karena kekurangan oksigen dalam waktu 3 – 5 menit setelah jantung berhenti berdenyut. Sedangkan penelitian menemukan bahwa sel-sel otak dapat hidup selama berjam-jam setelah kematian.

“Pesan saya, kematian yang biasanya kita lihat hari ini di tahun 2013 adalah kematian yang dapat dibalik,” katanya.

The Tikker, Jam yang Bisa Hitung Mundur Waktu Hidup yang Anda Harapkan

Jakarta, Masih ingatkah Anda dengan film ‘In Time’ yang dibintangi oleh Justin Timberlake dan Amanda Seyfried? Dalam film itu terdapat jam yang bisa menunjukkan waktu sisa hidup seseorang. Kini, di dunia nyata dibuat jam serupa yang diberi nama The Tikker. Saat jam lain berdetak maju, The Tikker justru berdetak mundur dan mendekati angka 0.

Dikutip dari News.com.au, jam ini sengaja dibuat dengan harapan bisa dimanfaatkan sebagai pengingat dan akan mendorong pemakainya untuk hidup lebih sehat dalam sebagian besar sisa waktu mereka.

Pencipta The Tikker, Fredrik Colting, menyatakan jam yang proses pembuatannya sudah mencapai tahap akhir ini terinspirasi oleh kematian kakeknya. Sebelumnya meninggal, sang kakek selalu memperhatikan waktu dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Fredrik ingin membuat orang lain juga bisa memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan hidup sehat, seperti yang dilakukan oleh sang kakek.

“Itu membuat saya berpikir tentang kematian dan kefanaan hidup. Saya menyadari bahwa tidak masalah kapan Anda meninggal, namun yang terpenting adalah apa yang telah Anda lakukan saat masih hidup,” ujar Fredrik.

Sebelum menggunakan jam ini, rencananya pembeli akan diminta untuk mengisi kuesioner yang berisi data pribadi, termasuk di antaranya usia dan kondisi kesehatan mereka. Dengan begitu, jam kemudian akan menghitung mundur usia harapan hidup mereka berdasarkan data yang diisi.

“Kami percaya peningkatan kesadaran akan tiba kematian akan membantu kita membuat perubahan besar yang lebih baik pada kehidupan yang ada,” ungkap pencipta website See Your Folks, yang merupakan website resmi peluncuran The Tikker.

Heboh Sosok Manusia di Permukaan Merkurius

detail berita

CALIFORNIA – Badan antariksa NASA baru-baru ini merilis sebuah gambar unik yang memperlihatkan sosok manusia yang tampak berbaring di permukaan Merkurius. Ditangkap melalui satelit atau pesawat luar angkasa yang mengorbit Merkurius, sosok pria tersebut tergeletak di antara kawah-kawah kecil Merkurius.

Dilansir Softpedia, namun, sosok misterius yang disandingkan dengan gambar Han Solo, tokoh jagoan Star Wars ini rupanya hanya lelucon yang dibuat NASA. Sekali-kali, NASA memutuskan untuk menghibur orang-orang dengan merilis gambar aneh.

Sekilas objek di permukaan Merkurius itu tampak menyerupai tokoh Star Wars, Han Solo pada saat ia membeku di Carbonite. “Permukaan Merkurius bisa mengeluarkan segala macam kejutan,” ungkap NASA.

NASA mengatakan, dalam gambar ini, bagian permukaan cekungan planet terdekat Matahari ini seolah memperlihatkan sosok yang terbungkus dengan Carbonite. Objek yang pernah diabadikan pada Juli 2011 ini ditangkap oleh pesawat luar angkasa yang mengorbit Merkurius.

Pada Oktober 2012, muncul informasi yang mengungkap keunikan pada permukaan Merkurius. Para ilmuwan yang sedang mengerjakan misi NASA Messenger di Merkurius menemukan kawah yang terlihat mirip monster kue kering (cookie).

Kawah itu menjadi mirip monster karena memiliki dua kawah lebih kecil di atasnya yang tampak menyerupai mata. Para ilmuwan mengunggah foto kawah tersebut di halaman Flickr NASA Goddard Space Flight Center. (ahl)

Kura-kura Langka yang Ditemukan di China Dianjurkan untuk Dimakan

thumbnail
Foto: Shangaiist
Jakarta – Seorang pria di Chinna menemukan kura-kura besar yang ternyata hampir punah, ia menghubungi sebuah organisasi perlindungan hewan liar untuk penanganan. Tapi, pimpinan organisasi itu justru menyarakan untuk memakan binatang tersebut!
Awal bulan September, seorang petani dari provinsi Henan, China menemui kura-kura ini saat sedang membajak ladangnya. Binatang tersebut mempunyai ukuran cukup besar dengan berat sekitar 5,8 kg dan diidentifikasi sebagai kura-kura aligator, spesies kura-kura air tawar terbesar di dunia.

Satu hal yang tidak wajar tentang penemuan ini adalah spesies kura-kura tersebut aslinya berasal dari Amerika Selatan bukan China. Biasanya hanya kura-kura betina yang ingin bersarang menjelajah ke lahan terbuka. Karena bingung penanganan hewan ini, sang petani langsung menghubungi organisasi perlindungan hewan lokal.

Alangkah terkejutnya sang petani saat menerima tanggapan dari pimpinan oragnisasi tersebut. Dong Zhaowei selaku direktur menyatakan daging spesies kura-kura aligator sangat enak dan petani tersebut harusnya langsung membunuh dan memakannya.

Jawaban tersebut tentunya mengundang protes dan kecaman masyarakat China, tapi Dong menjelaskan kura-kura tersebut bukanlah hewan asli China dan bisa saja membahayakan spesies lokal. Kura-kura aligator terdaftar sebagai spesies yang terancam punah, menurut petugas setempat spesies yang ditemukan ini dikatakan berumur sekitar 500 tahun.

Tapi, hal ini disanggah oleh anggota Science Squirrels Club yang mengatakan kura-kura tersebut baru berumur lima tahun. Kura-kura aligator menginjak umur dewasa saat usia 12 tahun dan bisa tumbuh seberat 81,46 kg, karena kura-kura ini beratnya hanya 5,8 kg perkiraan umurnya baru mencapai lima tahun.

Ilmuwan: Tiga Miliar Tahun Lagi Dunia Kiamat

detail berita

NORFOLK – Para ilmuwan dari University of East Anglia (UEA) di Inggris mengungkapkan bahwa Bumi masih akan mendukung kehidupan hingga tiga miliar tahun ke depan. Namun, manusia diperkirakan bakal “lenyap” dalam waktu yang jauh lebih cepat.

Mereka menjelaskan planet kehidupan ini semakin lama semakin mendekati Matahari. Akibatnya, suhu di Bumi melonjak naik dan perlahan “melahap” semua makhluk hidup di dalamnya. Tapi besar kemungkinan sebelum hal buruk itu terjadi, manusia sudah lebih dulu punah.

Hal itu disebut-sebut sebagai konsekuensi yang harus ditanggung manusia akibat perilakunya yang seringkali memancing perubahan iklim dunia selama beberapa tahun terakhir. Lebih lanjutnya, tim peneliti mengatakan bahwa kesempatan terbaik manusia agar dapat bertahan hidup dengan cara migrasi ke planet lain.

Ya, Bumi diperkirakan menjadi “galak” atau tidak layak huni pada 1,75 atau 3,25 miliar tahun lagi dari sekarang.

“Bumi akan memasuki ‘zona panas’ Matahari sesaat lagi. Suhunya yang begitu tinggi membuat lautan menguap. Selanjutnya, berbagai bencana siap menerjang dan bukan tidak mungkin akan merenggut nyawa semua makhluk hidup di planet ini,” kata Rushby, seperti dilansir dari The Independent.

Ia juga menambahkan, sejumlah aktivitas manusia telah menjadi pemicu utama perubahan iklim antropogenik ini. Jika Bumi sudah mencapai titik terpanasnya, maka manusia tidak akan mampu untuk tetap mempertahankan eksistensinya.

Di sisi lain, para astrologis melihat ada 1.000 planet yang mengorbit di luar tata surya yang diduga menjadi tempat terbaik untuk mendukung kehidupan. Mereka menemukan bahwa Gliese 581d bisa menjadi planet yang hangat dan menyenangkan bagi tempat tinggal manusia, setidaknya sampai 54,7 miliar tahun ke depan (lebih lama dari umur Bumi).

Namun, Rushby sendiri menekankan bahwa sampai saat ini belum ditemukan planet yang benar-benar lebih baik dari Bumi. Tetapi, ia yakin bahwa para ilmuwan dunia akan dapat menemukan planet layak huni dalam waktu 10 tahun cahaya.

Wah, Sapi Ternak Terhubung dengan Komputer

detail berita

Source for the news taken from: http://techno.okezone.com/read/2013/09/18/56/867753/wah-sapi-ternak-terhubung-dengan-komputer

ESSEX – Tim peneliti asal Inggris menciptakan alat yang mempermudah kerja peternak dalam mengelola ternaknya. Sebuah peternakan sapi di Essex, Inggris, telah mengintegrasikan semua sapi di peternakan dengan internet.

Setiap sapi ditanamkan GPS dan dapat tersambung ke komputer yang terkoneksi dengan internet. Dari GPS tersebut peternak bisa memonitor keadaan sapi dengan melihat perilaku hidup setiap harinya. Dari data yang didapat dari hasil monitor keadaan sapi, peternak bisa mendeteksi lebih awal gejala-gejala penyakit yang dialami oleh ternaknya.

Tim peneliti dari proyek bernama Cow Tracking Project ini menempatkan perangkat sensor di sekitar kandang sapi untuk menghubungkan dengan GPS yang tertanam pada hewan ternak. Sensor tersebut akan memonitor pergerakan dan kebiasaan tidur sapi. Informasi yang didapat kemudian dikirimkan ke komputer peternak secara otomatis, dan membuat data berupa pola hidup untuk mempermudah peternak mendeteksi penyakit.

Dengan adanya teknologi ini, para peternak bisa mengirit biaya banyak seperti gaji pekerja yang mengawasi ternak dan antibiotik untuk mencegah penyakit. “Kami memperhitungkan biaya yang dapat dihemat mencapai 300 pounds (sekira Rp5,4 juta) dan bisa lebih banyak lagi,” kata John Torrance, peternak sapi di essex seperti dikutip Mashable.

Cow Tracking Project juga bisa mengirimkan informasi ketika peternak tidak sedang berada di depan komputer untuk memonitor. Data tentang ternak dapat dikirimkan melalui pesan SMS dan email. Saat ini para sapi tersebut dapat pengawasan khusus selama 24 jam sehari.

Masih Ada Tempat ke Luar Angkasa, Siapkan USD100 Ribu!

Pesawat ruang angkasa milik Virgin Galactic (Foto: dailymail)

Pesawat ruang angkasa milik Virgin Galactic (Foto: dailymail)

Source for the news taken from: http://travel.okezone.com/read/2013/09/12/407/865174/masih-ada-tempat-ke-luar-angkasa-siapkan-usd100-ribu

INGIN wisata ke luar angkasa bersama selebriti terkenal? Anda masih memiliki waktu untuk mendapatkan kesempatan emas tersebut.

Space Expedition Corporation (SXC) berencana mengirimkan 100 wisatawan ke luar angkasa tahun depan. Di antara 100 orang tersebut, ada beberapa selebriti, seperti model Victoria Secret Doutzen Kroes dan penyanyi Bob Geldof.

Masih tersedia tiket untuk memenuhi kuota 100 orang. Anda juga bisa berwisata ke luar angkasa asal punya dana USD100 ribu.

Dalam wisata luar angkasa tersebut, Anda akan tinggal di sebuah hotel di Pulau Curacao. Kemudian, Anda akan naik pesawat ulang alik Lynx Mark II untuk terbang selama satu jam ke luar angkasa kemudian kembali ke Bumi. Pesawat ini hanya bisa dinaiki oleh satu penumpang setiap perjalanannya, seperti dikutip dari HuffingtonPost.

Tak hanya SXC yang menawarkan perjalanan wisata ruang angkasa. Maskapai Virgin Galactic pun menjanjikan pengalaman sama, dan telah sesumbar akan melakukan perjalanan luar angkasa akhir tahun ini.

Dalam pesawat Virgin Galactic tersebut, rencananya ada Justin Bieber, Katy Perry, Leonardo DiCaprio, dan selebriti lainnya yang telah membayar USD200 ribu. Sayang, perjalanan tersebut berulangkali ditunda.

Kini, baik SXC maupun Virgin Galactic berjanji bahwa pada 2014 akan membawa wisatawan ke luar angkasa. Kita lihat saja kebenarannya.

Ini 10 Manusia yang Pernah Mendarat di Bulan

detail berita

Manusia pertama mendarat di bulan (foto: NASA)

CALIFORNIA – Jika mendengar tentang manusia yang pernah mendaratkan kakinya di bulan, kebanyakan orang pasti mengatakan Neil Amstrong, atau mungkin Buzz Aldrin yang menjadi awaknya. Namun sebenarnya ada sepuluh orang lain lagi yang pernah melangkahkan kakinya di permukaan satelit Bumi.

Selain Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, astronot lain yang menjalankan misi Appolo dan sukses mendarat di bulan adalah Pete Conrad, Alan Bean, Alan Shepard, Edgar Mitchell, David Scott, James Irwin, John Young, Charles Duke, Eugene Cernan, dan Harrison Schmitt.

Menariknya, tak ada satupun dari kedua belas orang yang disebutkan menginjakkan kakinya di Bulan lebih dari satu kali. Berikut sedikit detil dari para astronot.

Pada 21 Juli 1969, Neil Armstrong mengukir sejarah sebagai orang pertama yang menginjakan kakinya di bulan. Ia datang bersama Buzz Aldrin sebagai co-pilot dalam misi Appolo 11. Mereka mendarat dengan selamat di Tranquility Base dan berada di permukaan Bulan selama 21 jam 36 menit 21 detik.

Dari pendaratan pertama manusia di bulan, Neil dan Aldrin mengambil sampel bebatuan bulan, menancapkan bendera AS, menanamkan seismograf, dan melakukan eksperimen bernama Lunar Ranging Retroreflector yang mengukur jarak antara Bulan dengan Bumi menggunakan sinar laser.

Pada misi Apollo 12, Pete Conrad and Alan Bean adalah orang kedua yang melakukan pendaratan di Bulan. Apollo 12 diluncurkan pada tanggal 14 November 1969 dengan misi mengontrol dan memperbaiki wahana antariksa Surveyor 3. Sedangkan pada misi Apollo 13 mengalami kecelakaan kebocoran tanki oksigen sehingga menyebabkan batalnya pendaratan di Bulan.

Tanggal 31 Januari 1971 Apollo 14 berhasil diluncurkan membawa Alan Shepard dan Edgar Mitchell dan mendaratkannya dengan selamat sampai di Bulan pada 5 Februari. Shepard dan Mitchell mengemban misi untuk menanamkan alat eksperimen seismik untuk mempelajari kemungkinan adanya gempa di Bulan.

Orang ketujuh dan kedelapan yang menginjakkan kakinya di Bulan adalah David Scott dan James Irwin. Mereka berdua ditugaskan dalam misi Apollo 15 pada 31 Juli 1971 sampai 2 Agustus.

Tak seperti pendaratan Apollo sebelumnya, Apollo 15 mendarat di antara dua gunung di permukaan Bulan. Mereka juga membawa semacam kendaraan untuk memungkinkan melakukan penjelajahan lebih jauh. Scott dan Irwin ditugaskan menanamkan beberapa alat eksperimen dan membawa pulang 77 kilogram bebatuan Bulan.

John Young dan Charles Duke adalah dua orang selanjutnya yang mendaratkan kakinya di Bulan. Apollo 16 berada di Bulan selama tiga hari dari 21 hingga 23 April 1972. Sedangkan aktivitas yang dilakukan di permukaan Bulan oleh John Young dan Charles Duke berlangsung selama 20 jam 14 menit. Kedua astronot Apollo 16 menjelajahi Bulan menggunakan kendaraan khusus sejauh 26,7 kilometer.

Dan manusia terakhir yang menginjakkan kakinya di Bulan adalah Eugene (Gene) Cernan dan Harrison (Jack) Schmitt dalam misi Apollo 17 pada 11 Desember 1972. Mereka bermukim selama tiga hari di bulan dengan melakukan sejumlah penelitian dan mengambil beberapa sampel bebatuan bulan. Kru Apollo 19 kembali ke Bumi pada 19 Desember setelah melakukan perjalanan panjang selama 12 hari.